musikbagus.org : “Merawat Khazanah Musik Indonesia”

“Merawat Khazanah Musik Indonesia”

oleh Denny Sakrie

Banyak orang yang tak paham bagaimana merawat khazanah budaya bangsanya sendiri. Contoh yang paling kongkret mungkin adalah musik yang menjadi bagian produk budaya pop. Kita terkadang tak menganggap musik itu adalah warisan budaya yang menjadi tameng jatidiri kita sebagai anak bangsa.

Namun untungnya tak semua anak muda melupakan akar budayanya. Contoh paling gamblang adalah White Shoes and The Couples Company yang tetap menelusuri akar musik pop Indonesia di masa lampau. Mereka kemudian merekonstruksi komposisi lagu-lagu daerah yang sempat menjadi bagian utama khazanah musik pop Indonesia pada paruh era 50an dan 60an.

Pada dasawarsa itu sebagian besar pemusik Indonesia menebar karya dalam bahasa daerah masing masing, mulai dari bahasa Jawa, Sunda, Minang, Kalimantan, Minahasa, Ambon, Bugis, Makassar hingga Papua.

Uniknya, lagu-lagu dengan beragam bahasa daerah itu ternyata bisa terkenal dan dikenal luas, misalnya ketenaran lagu “Ayam Den Lapeh,” “Lembe Lembe,” “Anging Mamiri,” “Apuse” hingga “O Ina Ni Ke Ke” dan masih banyak lagi.

Kenapa lagu-lagu daerah bisa mengangkasa ketenarannya saat itu? Ini mungkin merupakan dampak dari maklumat Presiden Soekarno yang bersikap anti Barat dan berinisiatif mengangkat budaya bangsa sendiri. Itu jelas termaktub dalam Manipol Usdek. Musik Barat bagi Bung Karno dianggap sebagai musik ngak-ngik-ngok yang tak sesuai dengan jati diri bangsa.

Saat rezim Orde Lama, mungkin masih kita ingat Manifesto Politik Republik Indonesia yang disingkat Manipol yang merupakan orasi Bung Karno pada 1959 yang kemudian oleh MPRS dikukuhkan sebagai Garis Garis Besar Haluan Negara lewat Ketetapan MPRS No.1/MPRS 1960, dimana saripatinya meliputi UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Dermokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia yang disingkat USDEK.

Nah, perihal Kepribadian Indonesia ini yang pada galibnya merupakan akar pangkal masalah berbudaya di negeri ini. Saya melihat ada sisi positif yang bisa dipetik dari “pengaturan” masalah kebudayaan dan perilaku berbudaya oleh Bung Karno, yaitu memberikan peluang sebesar-besarnya terhadap khazanah budaya Indonesia yang jumlahnya berlipat ganda itu. Sebetulnya ini upaya bagus dari seorang pemimpin negeri yang menaruh perhatian luar biasa dalam seni dan budaya.

Ketika pada dasawarsa 60an pemusik Barat mencari pencerahan budaya ke India sebagai representasi budaya Timur, kita malah terjengkang dengan pola budaya Barat yang oleh Bung Karno disebut sebagai ngak-ngik-ngok itu tadi.

Pelarangan dan pembreidelan memang menggangu wilayah ekspresi dan kreativitas seniman. Film Rock Around The Clock milik Bill Haley and His Comets diturunkan dan tidak boleh diputar di bioskop oleh pemerintah Orde Lama karena dianggap menggali dekadensi moral bagi kaum muda. Lagu lagu rock and roll ala Elvis Presley dilarang.

Akhirnya pemusik kita melakukan akal-akalan dimana lagu “Bengawan Solo” dibawakan dengan gaya Elvis Presley oleh Oslan Husein dengan iringan Teruna Ria. Lagu-lagu daerah Minang dibawakan dengan ragam musik Latin seperti tango maupun cha cha.

Pengaruh musik Latin dari pemusik kelahiran Barcelona bernama Xavier Cugat terasa pada khazanah musik pop era 50an hingga 60an. Dilarangnya musik Barat yang dicap ngak-ngik-ngok, juga membuat sederet pemusik melakukan eksperimentasi menyusupkan Gambang Kromong ke dalam karya-karya mereka yang sebetulnya memiliki saripati blues rock ala John Mayall seperti yang dilakukan Benyamin S di era 60an.

Musik daerah berkembang pesat, lihatlah di Jawa Barat muncul istilah Arumba yang merupakan akronim Alunan Rumpun Bambu, dimana alat-alat musik tradisional digunakan untuk mengiringi para penyanyi dengan konteks pop.

Di Manado muncul musik Kolintang, yaitu alat musik daerah yang mirip Marimba atau Xylophone mengiringi penyanyi-penyanyi pop asal Kawanua mulai dari Frans Daromez hingga Vivi Sumanti. Salah satu kelompok Kolintang asal Sulawesi Utara yang terkenal di era itu adalah Kadodaan.

Perusahaan rekaman Lokananta, Irama hingga Mesra banyak merilis lagu-lagu daerah tersebut. Momen ini kemudian ditangkap dan diolah lagi oleh White Shoes and The Couples Company yang lalu menggagas untuk merekam lima lagu-lagu daerah yang pernah ngetop pada masanya.

Bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2013 lalu kelompok White Shoes and The Couples Company meluncurkan album mini bertitel Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah yang berisikan 5 lagu yaitu: “Jangi Janger,” “Tjangkurileung,” “Te O Rendang O,” “Lembe-Lembe,” “Tam Tam Buku.”

Secara khusus sebagian besar proses perekaman album mini ini dilakukan di studio Lokananta, Solo, Jawa Tengah secara live pada 25 – 28 Oktober 2012 yang lalu.

Ini merupakan tribut yang dilakukan White Shoes and The Couples Company bagi masa kejayaan musik pop Indonesia di era paruh 50an hingga 60an dan tentunya, Lokananta, perusahaan rekaman milik pemerintah yang berada di Solo.

Kumpulan rekaman ini ibarat buku jurnal pengalaman mereka dalam menghidupi kembali roh era emas musik pop Indonesia. Ada karya legendaris seniman Pasundan Mang Koko Koswara di “Tjangkurileung”, lagu permainan klasik Melayu “Tam Tam Buku” alias “Trang Trang Kolantrang” atau “Chock Chock Kundong”, serenada Amboina legendaris gaya Broery Marantika and the Pros pada lagu “Lembe Lembe”, serta lagu pop berbahasa Maluku yang dibesut serta dilantunkan oleh sosok yang kini sudah tak banyak yang mengetahuinya Max Lesiangi.

Apa yang dilakukan White Shoes and The Couples Company rasanya jauh dari sudut eksploitasi sensasi bermusik. Bahwa mereka adalah sosok pemusik generasi penerus yang tak mau kehilangan akar budayanya. Bahwa kita dulu pun memiliki Golden Age of Pop, memiliki puncak kejayaan musik lokal. Nasionalisme sempit yang ingin mengganyang Malaysia karena lagu “Rasa Sayange” diaku sebagai bagian dari budaya mereka jelas adalah kekonyolan yang absurd. Berbuat seperti yang dilakukan White Shoes and The Couples Company jauh lebih patriotik.

 

SUMBER: http://musikbagus.org/2014/03/merawat-khazanah-musik-indonesia/

WSATCC di depan PERFINI

10151817_10152265329234641_1929599594_n

WSATCC di depan PERFINI

Foto White Shoes & The Couples Company di depan eks gedung PERFINI Jl. Menteng Raya no. 24, Jakarta Pusat ini diabadikan oleh photographer Keke Tumbuan pada Mei 2007. PERFINI (Perusahaan Film Nasional Indonesia) adalah perusahaan produksi film yang berpusat di Jakarta, Indonesia. Perusahaan film nasional pertama ini aktif memproduksi film Indonesia pada tahun 1950 hingga 60-an. Film pertama produksi PERFINI adalah “Darah dan Doa” (1950), dengan produser Djamaludin Malik dan sutradara Usmar Ismail. Tercatat kemudian tanggal hari pertama pengambilan gambar film “Darah dan Doa” pada 30 Maret 1950, ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Hal ini disebabkan film tersebut dinilai sebagai film lokal pertama yang bercirikan Indonesia, juga merupakan film pertama yang benar-benar disutradarai oleh orang Indonesia asli dan diproduksi oleh perusahaan film milik orang Indonesia. Film-film lainnya yang pernah diproduksi oleh PERFINI antara lain: Enam Jam di Djogdja (1951), Lewat Djam Malam (1953), Krisis (1953), Tamu Agung (1955), Tiga Dara (1956) dan Asrama Dara (1958).

Foto ini sendiri dibuat untuk keperluan promosi acara “ENAM JAM DI CIKINI” yang kemudian diselenggarakan pada 19 Agustus 2007.Saat itu White Shoes & The Couples Company bekerjasama dengan Aksara Records, Kineforum (Komite Film Dewan Kesenian Jakarta) dan Cafe Au Lait – Cikini, menyelenggarakan program yang menggabungkan acara nonton bareng film-film nasional masa lalu dan pertunjukan musik. Acara diadakan di dua tempat berdekatan yaitu nonton film di Kineforum(saat itu berlokasi di Studio 1-TIM 21, Jl. Cikini Raya 73) dan pertunjukan musik di Cafe Au Lait(Jl. Cikini Raya 17). Pada program pertunjukan musik, White Shoes & The Couples Company menyanyikan lagu-lagu terbaru dalam format mini konser 45 menit set untuk mempromosikan single terbarunya berjudul “Aksi Kucing”(ciptaan Oey Yok Siang). Lagu ini terdapat dalam mini album White Shoes & The Couples Company “Skenario Masa Muda” yang diedarkan oleh Aksara Records pada akhir bulan Agustus 2007.
Program nonton film bareng, mengajak teman-teman menonton film-film nasional masa lalu dari koleksi lembaga arsip film Sinematek Indonesia. Dua film yang diputar adalah “Asrama Dara”(1958) dan “ Tiga Dara”(1956). Kedua film ini diproduksi oleh PERFINI dan disutradarai oleh Usmar Ismail. Program ini diadakan untuk turut membantu kampanye yang dilakukan oleh Kineforum yaitu : Menolak Hilang Ingatan: Dukungan buat Sinematek Indonesia. Kampanye ini ditujukan untuk mengumpulkan dana dan juga mengajak sebanyak mungkin orang untuk memperhatikan kelangsungan arsip film nasional dan menggunakan koleksinya .

Foto White Shoes & The Couples Company di depan eks gedung PERFINI ini kemudian juga menjadi sisipan bonus kartu pos dalam rilisan mini album “Skenario Masa Muda” versi istimewa. Saat ini gedung PERFINI Jl. Menteng Raya no. 24 sudah tidak ada, sejak beralih kepemilikan dan dibongkar pada sekitar 2010.