KAYU JATI BISA BERMUSIK JUGA

KAYU JATI BISA BERMUSIK JUGA
oleh John Navid

• Selama ini kayu adalah elemen yang paling bagus sebagai bahan dasar untuk pembuatan instrumen karena sifatnya dalam menyerap dan memantulkan suara tidak diragukan lagi. Namun, tidak semua kayu dapat dijadikan bahan dasar pembuatan drum. Kayu tersebut harus memenuhi beberapa syarat khusus, seperti : kuat, keras, tapi mudah dibengkokkan, tersedia dalam jumlah yang banyak, terlihat menarik, dll. Drum yang kita pakai selama ini merupakan barang impor dari luar negeri. Sehingga Kayu-kayu yang populer dipakai untuk kerangka drum adalah kayu yang mudah didapatkan oleh para produsen drum di sana, seperti : maple, birch.

Penggunaan Kayu Jati untuk Kerangka Drum Set
Ada dua faktor dasar yang dapat membuat suatu drum menjadi bagus. Faktor pertama adalah bahan dan faktor kedua adalah cara pembuatan. Selama ini kayu yang dipakai untuk membuat drum yang telah teruji adalah kayu yang keras. Di negara 4 musim kayu yang keras adalah kayu berwarna putih, contohnya: maple, birch. Tetapi di negara 2 musim seperti Indonesia kayu yang keras adalah kayu yang berwarna gelap seperti: jati, ebony.

Kayu yang biasa untuk pembuatan instrumen di Amerika adalah maple, sedangkan di Eropa kayu birch. Kayu maple juga mempunyai jenis yang bermacam-macam, seperti : hard maple, sugar maple, rock maple, bird eye maple. Jenis-jenis maple ini sebenarnya masih dalam satu rumpun. Karena tumbuh di tempat yang berbeda dan cara pemotongannya yang berbeda maka maple tersebut menjadi jenis yang berbeda. Misalnya di bongkol kayu dekat akar kalau dipotong secara horizontal maka akan menjadi bird eye maple. Kalau sugar maple lebih ke bagian di atas sedikit dari batang.

Kayu-kayu tersebut tidaklah murah karena di kuota (dibatasi pemakaiannya oleh pemerintah). Dan jika ingin menebang satu pohon maple mereka harus menanam lagi beberapa pohon yang sama. Selain itu juga tidak boleh menebang pohon yang berusia tertentu. Karena permintaan pasar yang besar dan persediaan yang sedikit maka harganya menjadi mahal.

Untuk menekan biaya pengeluaran, maka industri pembuatan drum mulai mencari kayu-kayu alternatif yang ada di Asia dan Afrika, misalnya mahogany, philiphine mahogany, basswood, falkata. Tapi kualitas kayu ini berada pada kualitas menengah ke bawah.

Drum terdiri dari 3 level, yaitu: beginner (pemula), performance, profesional. Untuk kualitas pemula dan performance biasanya menggunakan kayu-kayu alternatif, dan  kelas profesional menggunakan kayu maple dan birch.
Berbicara mengenai kayu alternatif, sebenarnya di Indonesia juga mempunyai potensi yang sama. Terbalik dengan negara 4 musim dimana kayu yang keras adalah kayu putih dan kayu yang lunak adalah kayu gelap, maka di Indonesia kayu yang putih merupakan kayu yang lunak dan kayu gelap adalah kayu yang keras. Kayu-kayu exotic banyak terdapat di Indonesia, dan kayu yang dipakai untuk industri pun sekarang masih mewakili exotic. Kayu yang dimaksud tersebut adalah kayu jati. Kayu jati mudah didapatkan di Indonesia, selain lebih murah, kayu jati juga bersifat anti rayap karena ada suatu zat tertentu yang dimiliki oleh kayu jati yang rasanya tidak disukai oleh rayap.

Kayu jati merupakan kayu kelas satu karena kekuatan, keawetan dan keindahannya. Secara teknis, kayu jati memiliki kelas kekuatan I dan kelas keawetan I. Meskipun keras dan kuat, kayu jati mudah dipotong dan dikerjakan, sehingga disukai untuk membuat konstruksi berat, seperti : jembatan, bantalan rel, struktur bangunan sampai ke furniture dan ukir-ukiran. Apabila diampelas halus, akan  memiliki permukaan yang licin dan seperti berminyak. Pola-pola lingkaran tahun pada kayu teras nampak jelas, sehingga menghasilkan gambaran yang indah.  Kekurangannya, kayu jati bobotnya lebih berat daripada kayu maple dan birch.
Sekarang tinggal bagaimana mengelolanya supaya menjadi suatu produk yang bagus.

Para pemain drum biasanya mempunyai ciri permainan dan suara yang berbeda-beda dan juga biasanya mereka lebih suka jika ciri dan suara drum mereka eksklusif. Akan tetapi produk drum yang dijual di pasaran biasanya dibuat secara massal dan untuk kepentingan umum saja. Jadi agak susah jika ingin mendapatkan bentuk dan suara  yang eksklusif. Untuk itu harus memesan secara custom (personal).

Hal tersebut sudah bisa dilakukan di Indonesia karena sudah ada sebuah perusahaan yang dapat memenuhi kebutuhan para pemain drum di Indonesia. Dikenal dengan nama Harry Murti, pembuat drum yang telah berpengalaman selama 15 tahun. Dengan cerdas menggunakan kayu yang berasal dari Indonesia sebagai bahan dasar pembuatan drum customnya juga sebagai industri drum lokal pertama buatan Indonesia.

• Produk tersebut dikenal dengan nama Harry’s Drum Craft. Penampilan dan suara drum yang dihasilkan sesuai dengan karakter permainan si pemain drum, karena biasanya sebelum proses pembuatan drum dilakukan, si pembuat drum melakukan pendekatan untuk memahami karakter si pemain drum tersebut. Harganya juga lebih murah daripada jika harus membeli  produk impor lainnya dengan kualitas atas di toko-toko musik.

Sekarang Harry’s Drum Craft sudah banyak digunakan oleh para musisi pemain drum dan artis-artis di Indonesia dan Internasional, seperti: Didi Riyadi (Element), Widi (Malique & D’Essential), Konde (Samson), John Navid (White Shoes & the Couples Company), Aksan Syuman (Potret), Budhi Haryono (ex Gigi), Inisisri (Kantata Takwa), Marcello Pettiteri (Luluk and Helsdingen Trio – Belanda) Dion Parson (Herbie Hancock –USA), Laura Figy Band – USA, Gullli Briem (Mezzoforte – Iceland) Mickey (Native Soul – New Zealand), Carola Grey (Noisy Mama – Jerman) dan musisi lainnya.

Di samping itu juga menjadi penulis tetap/kontributor di majalah AudioPro dari 2001 hingga sekarang. Penulis dari majalah MUMU yang terbit tahun 1998-2001 ini, sering dipakai sebagai drummers supplies untuk artis-artis International, seperti : Spin Doctor, Prodigy, Diana Krall, Safri Duo, Helloween, Blue, Daniel Bedingfield, Incognito,Laura Figy, Luluk & Helsdinge Trio, Hoobastank, The Bravery, Delarious, Tony Prabowo “King’s Witch”, dll.

Membantu beberapa proses rekaman para musisi lokal, sebagai sound advisor dan drum supplies , seperti: Baron, Element, White Shoes & the Couples Co. , Load, Potret, Vina Panduwinata, Erwin Gutawa Project, Tompi, Reborn, Innisisri, Chlorophyl,dll.

Pada tahun 2005 mendirikan Jakarta Drum School yang bertempat di daerah Jakarta Selatan.

Untuk info detail tentang Harry’s Drum Craft bisa langsung ke website mereka

Click> Harry’s Drum Craft Website

(foto dok.wsatcc, John Navid, Sari Julia)

One thought on “KAYU JATI BISA BERMUSIK JUGA

  1. maju terus white shoes and the couples company dan permusikan indie di Indonesia….
    saya termasuk pengagum dan penikmat lagu2 white shoes and the couples company, salam buat john navid dan ditunggu karyanya !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *