musikbagus.org : “Merawat Khazanah Musik Indonesia”

“Merawat Khazanah Musik Indonesia”

oleh Denny Sakrie

Banyak orang yang tak paham bagaimana merawat khazanah budaya bangsanya sendiri. Contoh yang paling kongkret mungkin adalah musik yang menjadi bagian produk budaya pop. Kita terkadang tak menganggap musik itu adalah warisan budaya yang menjadi tameng jatidiri kita sebagai anak bangsa.

Namun untungnya tak semua anak muda melupakan akar budayanya. Contoh paling gamblang adalah White Shoes and The Couples Company yang tetap menelusuri akar musik pop Indonesia di masa lampau. Mereka kemudian merekonstruksi komposisi lagu-lagu daerah yang sempat menjadi bagian utama khazanah musik pop Indonesia pada paruh era 50an dan 60an.

Pada dasawarsa itu sebagian besar pemusik Indonesia menebar karya dalam bahasa daerah masing masing, mulai dari bahasa Jawa, Sunda, Minang, Kalimantan, Minahasa, Ambon, Bugis, Makassar hingga Papua.

Uniknya, lagu-lagu dengan beragam bahasa daerah itu ternyata bisa terkenal dan dikenal luas, misalnya ketenaran lagu “Ayam Den Lapeh,” “Lembe Lembe,” “Anging Mamiri,” “Apuse” hingga “O Ina Ni Ke Ke” dan masih banyak lagi.

Kenapa lagu-lagu daerah bisa mengangkasa ketenarannya saat itu? Ini mungkin merupakan dampak dari maklumat Presiden Soekarno yang bersikap anti Barat dan berinisiatif mengangkat budaya bangsa sendiri. Itu jelas termaktub dalam Manipol Usdek. Musik Barat bagi Bung Karno dianggap sebagai musik ngak-ngik-ngok yang tak sesuai dengan jati diri bangsa.

Saat rezim Orde Lama, mungkin masih kita ingat Manifesto Politik Republik Indonesia yang disingkat Manipol yang merupakan orasi Bung Karno pada 1959 yang kemudian oleh MPRS dikukuhkan sebagai Garis Garis Besar Haluan Negara lewat Ketetapan MPRS No.1/MPRS 1960, dimana saripatinya meliputi UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Dermokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia yang disingkat USDEK.

Nah, perihal Kepribadian Indonesia ini yang pada galibnya merupakan akar pangkal masalah berbudaya di negeri ini. Saya melihat ada sisi positif yang bisa dipetik dari “pengaturan” masalah kebudayaan dan perilaku berbudaya oleh Bung Karno, yaitu memberikan peluang sebesar-besarnya terhadap khazanah budaya Indonesia yang jumlahnya berlipat ganda itu. Sebetulnya ini upaya bagus dari seorang pemimpin negeri yang menaruh perhatian luar biasa dalam seni dan budaya.

Ketika pada dasawarsa 60an pemusik Barat mencari pencerahan budaya ke India sebagai representasi budaya Timur, kita malah terjengkang dengan pola budaya Barat yang oleh Bung Karno disebut sebagai ngak-ngik-ngok itu tadi.

Pelarangan dan pembreidelan memang menggangu wilayah ekspresi dan kreativitas seniman. Film Rock Around The Clock milik Bill Haley and His Comets diturunkan dan tidak boleh diputar di bioskop oleh pemerintah Orde Lama karena dianggap menggali dekadensi moral bagi kaum muda. Lagu lagu rock and roll ala Elvis Presley dilarang.

Akhirnya pemusik kita melakukan akal-akalan dimana lagu “Bengawan Solo” dibawakan dengan gaya Elvis Presley oleh Oslan Husein dengan iringan Teruna Ria. Lagu-lagu daerah Minang dibawakan dengan ragam musik Latin seperti tango maupun cha cha.

Pengaruh musik Latin dari pemusik kelahiran Barcelona bernama Xavier Cugat terasa pada khazanah musik pop era 50an hingga 60an. Dilarangnya musik Barat yang dicap ngak-ngik-ngok, juga membuat sederet pemusik melakukan eksperimentasi menyusupkan Gambang Kromong ke dalam karya-karya mereka yang sebetulnya memiliki saripati blues rock ala John Mayall seperti yang dilakukan Benyamin S di era 60an.

Musik daerah berkembang pesat, lihatlah di Jawa Barat muncul istilah Arumba yang merupakan akronim Alunan Rumpun Bambu, dimana alat-alat musik tradisional digunakan untuk mengiringi para penyanyi dengan konteks pop.

Di Manado muncul musik Kolintang, yaitu alat musik daerah yang mirip Marimba atau Xylophone mengiringi penyanyi-penyanyi pop asal Kawanua mulai dari Frans Daromez hingga Vivi Sumanti. Salah satu kelompok Kolintang asal Sulawesi Utara yang terkenal di era itu adalah Kadodaan.

Perusahaan rekaman Lokananta, Irama hingga Mesra banyak merilis lagu-lagu daerah tersebut. Momen ini kemudian ditangkap dan diolah lagi oleh White Shoes and The Couples Company yang lalu menggagas untuk merekam lima lagu-lagu daerah yang pernah ngetop pada masanya.

Bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2013 lalu kelompok White Shoes and The Couples Company meluncurkan album mini bertitel Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah yang berisikan 5 lagu yaitu: “Jangi Janger,” “Tjangkurileung,” “Te O Rendang O,” “Lembe-Lembe,” “Tam Tam Buku.”

Secara khusus sebagian besar proses perekaman album mini ini dilakukan di studio Lokananta, Solo, Jawa Tengah secara live pada 25 – 28 Oktober 2012 yang lalu.

Ini merupakan tribut yang dilakukan White Shoes and The Couples Company bagi masa kejayaan musik pop Indonesia di era paruh 50an hingga 60an dan tentunya, Lokananta, perusahaan rekaman milik pemerintah yang berada di Solo.

Kumpulan rekaman ini ibarat buku jurnal pengalaman mereka dalam menghidupi kembali roh era emas musik pop Indonesia. Ada karya legendaris seniman Pasundan Mang Koko Koswara di “Tjangkurileung”, lagu permainan klasik Melayu “Tam Tam Buku” alias “Trang Trang Kolantrang” atau “Chock Chock Kundong”, serenada Amboina legendaris gaya Broery Marantika and the Pros pada lagu “Lembe Lembe”, serta lagu pop berbahasa Maluku yang dibesut serta dilantunkan oleh sosok yang kini sudah tak banyak yang mengetahuinya Max Lesiangi.

Apa yang dilakukan White Shoes and The Couples Company rasanya jauh dari sudut eksploitasi sensasi bermusik. Bahwa mereka adalah sosok pemusik generasi penerus yang tak mau kehilangan akar budayanya. Bahwa kita dulu pun memiliki Golden Age of Pop, memiliki puncak kejayaan musik lokal. Nasionalisme sempit yang ingin mengganyang Malaysia karena lagu “Rasa Sayange” diaku sebagai bagian dari budaya mereka jelas adalah kekonyolan yang absurd. Berbuat seperti yang dilakukan White Shoes and The Couples Company jauh lebih patriotik.

 

SUMBER: http://musikbagus.org/2014/03/merawat-khazanah-musik-indonesia/

LANGITMUSIK.COM: MENGEMAS VISUAL UNTUK BAND

MENGEMAS VISUAL UNTUK BAND
Oleh Rio Farabi
Pada kesempatan kali ini saya (Rio Farabi) akan membagi cerita dibalik proses rancang grafis dari album White Shoes & The Couples Company. Grafis album pertama dan EP WSATCC sepenuhnya dikerjakan oleh kami sendiri (Album Vakansi kami kerjakan bersama Tony Tandun). Ini sendiri terjadi semata-mata karena kami terlalu excited dengan apa yang kami lakukan. Walaupun harus repot-repot dalam mengerjakannya toh hasil memuaskan. Lagi pula, diantara kami hanya Mela dan John yang mempunyai kerja tetap (sebagai seorang guru), selebihnya kami bekerja freelance. Karena itulah kami jadi punya banyak waktu untuk mengerjakannya.

Bagi kami, kemasan album sama pentingnya dengan hasil rekaman. Keduanya merupakan satu keutuhan yang saling berkaitan. Kami yakin produksi rekaman yang bagus, jika ditunjang artwork yang bagus, maka album tersebut akan menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati sampai kapan pun. Ketika kalian membeli album secara fisik, kalian sebenarnya sudah membeli sebuah artwork yang utuh.

WSATCC 1stAlbum AksaraRecords & Universal, Indonesian Release 2005
WSATCC 1stAlbum Minty Fresh, USA Release 2007
WSATCC 1stAlbum AvantGarde, Taiwan Release 2009

Okelah, orang bisa beli album bajakan kami di lapak-lapak kaki lima, mengunduh gratis di internet, atau juga berbagi file dari komputer ke komputer. Kami sepenuhnya sadar dengan situasi seperti itu. Karenanya, dengan membuat kemasan album yang menarik, tentu nilai jual dari album itu sendiri akan bertambah. Apalagi cover albumnya dibuat (juga) oleh personil band itu sendiri, tentunya akan terasa lebih istimewa.

Album pertama kami yang berjudul “White Shoes And the Couples Company” sepenuhnya dirancang oleh kami sendiri. Semua anggota ikut memberikan kontribusi untuk sleeve design album ini. Meski album ini dirilis tahun 2005, produksi pembuatan artwork album sudah dimulai dari pertengahan 2004. Kala itu, kami sepakat kalo album ini adalah album dokumentasi dari kumpulan lagu-lagu kami, yang kelak akan kami tunjukkan ke anak cucu dengan bangga hati. Karena itulah, kami pun sepakat kalo design artwork album ini akan berbentuk seperti Album Foto. Ya, album foto keluarga yang isinya adalah foto-foto anggota keluarga, rekaman dari macam-macam kejadian, dan juga catatan-catatan yang sekiranya penting untuk di ingat.



Berfoto di depan rumah, adalah hal yang sangat umum. Silahkan buka kembali album foto orang tua kalian. Berfoto depan rumah, atau kadang bersama kendaraan pribadi, adalah suatu kebanggaan. Sebuah tanda kesuksesan dan juga keharmonisan.

Pertama, untuk album cover. Kami ingin album ini terlihat simple tapi elegan. Kami pilih warna dasar putih, dengan tulisan White Shoes & The Couples Company berwarna silver. Pada awalnya tulisan silver itu berupa plat besi tipis, menyerupai emblem, tapi karena kepentok harga produksi, jadilah ide plat itu kami sederhanakan. Cover ini nantinya akan berupa booklet. Sebuah album foto mini, berukuran Compact Disc. Tanpa plastic case seperti album CD pada umumnya.

Oh iya, di album ini  kami mempunyai ide untuk membuat  kolase dari foto-foto kami. Kolase seperti ini biasanya selain ada di album foto kadang juga di bingkai dan digantung diruang tamu. Sesuatu yang bisa dibagi untuk tamu-tamu yang berkunjung kerumah. Sekali lagi ini memperlihatkan keharmonisan keluarga dirumah. Foto-foto dalam lembaran kolase ini berasal dari koleksi foto-foto kami disaat kami berpergian sebagai band, dan beberapa disaat kami sedang rekaman. Beruntung, manajer kami selalu membawa kamera digital kemana-mana, jadi stok foto kami memang lumayan banyak.

Kami sangat bersenang-senang dalam mengerjakan album ini. Baik disaat rekaman maupun pada saat mengerjakan artwork untuk album ini. Banyak ide-ide muncul ketika proses merancang cover album ini, seperti cara penulisan lirik-lirik lagu. Kami meminjam mesin tik bendahara kantor organisasi seni ruangrupa untuk menulis lirik di album ini. Lirik ditulis diatas kertas berwarna dan ditambah dengan tempelan stiker-stiker lama kami, dan hasilnya sangat memuaskan.


Stiker-stiker yang ada di album ini juga mempunyai cerita unik, berawal dari pertemanan kami dengan Bambang Toko, seorang seniman asal Jogja. Dari beliaulah kami mendapatkan info stiker-stiker yang pernah menghibur ibukota dengan pepatah-pepatah bijaknya. Selain kata-katanya yang lucu, stiker ini mempunyai image yang sangat khas. Sangat Indonesia. Faktor ini jugalah yang membuat kami memasukkan stiker kedalam design album kami. Ada beberapa yang kami ambil langsung, ada juga yang kami edit dan lay-out ulang sesuai dengan kebutuhan designnya.

Satu hal yang paling penting buat kami adalah, di album ini kami ingin sekali menunjukkan kota Jakarta. Kami berfoto di beberapa landmark penting yang jarang ter-expose. Kami lebih memilih gedung RRI (Radio Republik Indonesia), Museum Gajah, Air mancur depan Monas, dan Bank Indonesia dibanding HI atau Monas yang sudah terlalu umum. Selanjutnya landmark-landmark unofficial lainnya yang selalu kami buru dalam setiap foto di album kami berikutnya. Tempat terakhir kami berfoto adalah didepan BB’s café menteng. Tempat ini spesial buat kami, apalagi tempat ini jugalah yang menjadi penanda lahirnyascene baru di kota Jakarta.

Yang terakhir adalah ilustrasi sepasang pemuda-pemudi dengan tagline “Untuk Anda Yang Berjiwa Remaja”. Ilustrasi ini diambil dari beberapa stiker dan kemudian dikolase sedemikian rupa sehingga membentuk image baru. Ilustrasi ini dibuat sebagai artwork penutup, dan tagline dipakai sebagai statement/pernyataan sikap kami di album ini bahwa album ini dibuat hanya bagi anda yang berjiwa “remaja” (yang mana kita tahu bahwa masa remaja adalah masa dimana semua menjadi lebih menggelora, hasrat lebih menggebu)

Waktu SD saya membeli album Blood Sugar Sex Magik dari Red Hot Chilli Pepper. Sesampainya dirumah, kasetnya langsung saya putar, dan bernyanyi, lompat-lompat sambil membaca lirik yang ada di cover. Kejadian seperti ini berlangsung terus sampai saya kuliah (walaupun ga selalu lompat-lompat! hehehe…!). Mungkin hari ini bila ingin mencari lirik dari lagu favorit, kita bisa langsung googling. Tapi membeli sebuah album, membuka bungkus plastik, melihat artwork dan foto-foto didalam sleeve-nya, serta bernyanyi sambil membaca lirik itu sangat menyenangkan.

Pengalaman inilah yang ingin saya berikan kepada mereka, pembeli album yang sudah kami buat. Membeli album adalah investasi. Bisa jadi harta yang sangat berharga buat generasi dibawah kita. Karena karya album rekaman musik adalah karya seni yang sifatnya abadi.

Album ini diproduksi dalam bentuk CD dan kaset. Album ini pun sudah dirilis di Amerika Serikat (oleh Minty Fresh, yang distribusinya juga ke Kanada, Amerika Selatan, Australia dan Jepang), Taiwan (AvantGarden Records) dan Korea Selatan (Boss Moon, Beatball).

Sebagai penutup catatan ini, kalian bisa lihat 3 desain yang berbeda dari rilisan album pertama kami. Yaitu rilisan di Indonesia (Aksara Records & Universal), Amerika Serikat (Minty Fresh), dan Taiwan (AvantGarden Records) pada gambar ilustrasi postingan ini! Lalu, jika berkenan, review album ini dari sebuah website terkemuka di Amerika Serikat bisa kembali disimak disini.

Baca juga White Shoes & The Couples Company dan Musisi-musisi lainnya bercerita berbagi pengalaman, inspirasi dan kesukaan di LANGIT MUSIK.COM

Rock-n-Roll Exhibition: RIO FARABI

Rock-n-Roll Exhibition: RIO FARABI

September 14th, 2011

Edition: September 14, 2011

Rock-n-Roll-Exhibition: RIO FARABI 
My Evergreen

:: Playlist, intro, song descriptions, and (most) photos, handpicked and written by Rio Himself ::

Yak, inilah 32 lagu “Evergreen” versi saya. Sebenernya saya juga masih bingung apa arti pasti dari lagu Evergreen. Sebenernya faktor apa yang membuat lagu layak disebut lagu Evergreen?

Kalau dilihat dari kata-katanya, Evergreen berarti selalu hijau. Mungkin maksudnya adalah lagu-lagu yang ga bakal pudar, selalu hijau di hati atau ringkasnya adalah lagu yang abadi. And most of them came from pop/ballad genre, genre yang memang mudah diterima oleh kebanyakan orang. Karena saking populernya, maka lagu ini “wajib” masuk kedalam album kompilasi lagu-lagu Evergreen versi record label tertentu. Evergreen mungkin juga berarti lagu ini bakal tetep laku di tahun-tahun mendatang, apalagi kalo penyanyi aslinya udah meninggal, maka penyanyi baru yang menyanyikan lagu itu hampir dipastikan akan melejit juga. Sepertinya kata Evergreen ini mulai ada di tahun 70an akhir. Begitulah kira-kira analisa dangkal saya soal Evergreen ini.

Tapi faktor-faktor tersebut ga berlaku buat playlist Evergreen saya. Lagu-lagu Evergreen versi saya ini lebih personal, punya memori spesial karena berkaitan erat dengan kejadian-kejadian “penting” dalam hidup saya, soundtrack dari berbagai fragmen hidup saya, lagu-lagu yang menemani saya tumbuh besar, ataupun lagu yang memiliki nilai estetis sedikit lebih banyak dibanding lagu-lagu lainnya di kuping saya. Dan pasti lagu-lagu ini bakal tetep hijau di hati, tetep enak didengerin kapan pun. Tetep abadi walaupun ratusan single terbaru dari puluhan bahkan ratusan band muncul.

Terima kasih buat Brocuk Rudolf Dethu yang mengundang saya untuk berpameran di The Block Rockin’ Beats ini. Sebuah kehormatan untuk bisa “berbagi” di blog yang super keren ini.

Okeh, inilah playlist saya. Selamat menikmati dan bersulang!

The Playlist:

01. Speak To Me/Breathe – The Flaming Lips (feat. Peaches & Henry Rollins)
Dark with powerful bassline. Lagu Pink Floyd ini sukses diobrak-abrik oleh Flaming Lips.
The Flaming Lips and Stardeath and White Dwarfs with Henry Rollins and Peaches Doing The Dark Side of the Moon/2009

02. Burn – Deep Purple
Ini lagu rock yang pertama saya denger. Papa saya pencinta Deep Purple. Dia selalu bangga bisa nonton Deep Purple dulu di Senayan.
Burn/1974

03. Pucat Pedih Serang – Netral
Hail to Indonesian alternative’s in the 90’s. Masih inget banget ketika Netral main di tivi. Kepala plontos, kacamata kobra, kumis lebat, kaos Swan, plus jins belel robek-robek. Mana ada sekarang musisi kaya gitu di tivi. 3 album pertama mereka jadi favorit saya sepanjang masa.
Album Minggu Ini/1998

04. Phantom Punch – Sondre Lerche
Sisi liar dari seorang Sondre. Distorsi, sound gitar kotor, hard stroke. Brooklyn, 2008 White Shoes & The Couples Company perform di festival CMJ, Sondre was among the crowd!!
Phantom Punch/2007

05. Kisses – Kisses
Simplicity. Lagu favorit ketika deadline udah selesai.
The Heart of The Nightlife/2010

06. You Can Call Me Al – Paul Simon
Meriah, hangat, festive. Sepertinya panas matahari Jakarta pun jadi bersahabat dengan diputarnya lagu ini.
Graceland/1986

07. Angin Laut – Koes Bersaudara
Lagu Koes Bersaudara paling keren menurut saya, nadanya agak aneh. Kebarat-baratan.
Angin Laut/1964

08. Woo Hoo – The 5.6.7.8s
Lagu wajib buat pagi-pagi. Sederhana, powerful with cool attitude. White Shoes and The Couples Company beberapa kali meng-cover lagu ini.
Bomb The Twist/1996

09. Peace Frog – The Doors
Los Angeles, 2008. Bright sun, after a week in a cold and breezy East Coast. On a convertible car, we’re heading to Venice Beach.
Morrison Hotel/1970

10. Blue Sunday – The Doors
This is the most romantic love song ever created by human.
Morrison Hotel/1970

11. Le Pastie de la Bourgeoisie – Belle & Sebastian
Terlalu banyak lagu mereka yang keren. Sleeve album mereka selalu bagus. Influential.
3.. 6.. 9 Seconds of Light/1997

12. Gobbledigook – Sigur Rós
Track pertama dari album Meô suô í eyrum viô spilum endalaust sangat jauh dari tipikal lagu-lagu Sigur Rós. Tapi justru itu yang bikin saya jatuh hati sama lagu ini.
Meô suô í eyrum viô spilum endalaust/2008

13. Sit Down – James
Jaman SMA ngopi lagu ini pake tape deck busuk, yang hasil akhirnya mendem.
Sit Down/1989

14. Australia – Manic Street Preachers
Lagu MSP yang pertama nyampe di kuping saya.
Everything Must Go/1996

15. Sound of Silence – Simon & Garfunkel
Remembering the dark ages…
Sound of Silence/1966

16. Mr. Tambourine Man – Bob Dylan
Jakarta-San Francisco. Total lebih dari 24 jam terbang. All I do was drawing and listening to this record.
Bring it All Back Home/1965

17. Femme Fatale – Velvet Underground
2003. Mural di daerah pedalaman selama 2 minggu non-stop. Album ini jadi favorit.
The Velvet Underground & Nico/1967


18. Kasih Bersemi – Rhythm Kings
Adem. Berkat A. Rijanto band prog-rock ini bisa juga main lagu manis.
1972

19. Home and Dry – Pet Shop Boys
Di lagu ini mereka terdengar lebih “manusia” dan lebih hangat. Mereka menyewa kastil di pinggiran Inggris, jauh dari hingar-bingar kota untuk tempat rekamannya. Keren.
Release/2002

20. Life of Riley – The Lightning Seeds
Back when everyone wear tracksuit/parachutes jacket and fisherman hat.
Sense/1992

21. This Charming Man – The Smiths
BB’s Cafe, Menteng. 2002-2003. DJ Kita.
This Charming Man (single)/1983

22. Riot Radio – The Dead 60s
Mulai ngelirik Fred Perry lagi setelah denger lagu ini, tapi ternyata begitu pun penjual kemeja di mal Ambassador dan Mangga Dua.. shitter!!
The Dead 60s/2005

23. Missing – Everthing But The Girl
Band ini jadi penghantar saya masuk ke ranah musik elektronik. Lagu ini banyak di-remix orang tapi versi originalnya tetep yang paling juara.
Amplified Heart/1994

24. Jeanne – Air & Francoise Hardy
And how can you forget the vocal and synthesizer in this song…
Sexy Boy (single)/1998

25. La Javanaise – Serge Gainsbourg
Not a good looking guy tapi punya daya tarik yang bisa bikin wanita seperti Bridgitte Bardot pun kelimpungan. Seorang Singer-songwriter hebat.
La Javanaise (single)/1963

26. Ghost of Stephen Foster – Squirrel Nut Zippers
Lagu ini mengantar saya ke jazz dan mulai mencari tahu tentang apa itu swing, beb-bop dan lainnya. Menelusuri root music baru adalah sesuatu yang menyenangkan. Dan ini adalah salah satu lagu yang saya ingin cover.
Perrenial Favorites/1998

27. Maxwell Murder – Rancid
I was a bass player. And Tom Freeman was my hero. Best bass player in a punk rock band.
And Out Come The Wolves/1995

28. Sabotage – Beastie Boys
Put on your shoes and skate!!
Ill Communication/1994

29. Gita Cinta – Chrisye
Lagu ini selalu jadi joke ke angkatan yang lebih tua pas jaman kuliah. “… masa remaja punahlah sudah..” Puspa Indah/1980

30. Didn’t I Blow Your Mine This Time – New Kids On The Block
Waktu masih SD sangat akrab dengan NKOTB, uang Lebaran pun pernah habis saya pakai buat beli album mereka. New Kids On The Block/1986

31. Kekagumanku – Chandra Darusman
Lagu ini langsung playback otomatis di kepala saya ketika anak saya, Janis, lahir 3 bulan lalu.
Kekagumanku/1983

32. Cuscatlan – Frente
Lagu wajib buat belajar maen gitar. Dan sampe sekarang cuman bisa intronya aja hehehhe..
…Cause I don’t wanna die/I’m innocent as anybody/I don’t even know how start revolutionary…
Marvin The Album/1994

___________________


Rio Farabi menjabat sebagai penanggungjawab gitar akustik di grup retro White Shoes & The Couples Company. Selain itu ia adalah juga seorang artis visual. Belakangan, pria ini menyempatkan juga berkiprah di projek musik lainnya, Kapitalindo, bersama sejawatnya di WSATCC, Saleh Hussein, serta aktivis Ruang Rupa, Ade Darmawan. Rio kerap pula menggunakan istilah “Rock is Dad” sehubungan dengan status barunya sebagai ayah bagi anak pertamanya, Janis.

via RUDOLFDETHU.COM

 

MAJALAHCOBRA.COM: WSATCC AT VOILAH FEST ..

White Shoes & The Couples Company at Voilah Festival, Singapore – Malaysia

– November 23, 2011 –

Oleh: Ricky Surya Virgana Foto: John Navid & Indra Ameng

Seminggu kemarin adalah minggu yang sangat padat bagi White Shoes and the Couples Company dikarenakan jadwal padat yang harus kami kerjakan baik di dalam kota, luar kota, sampai luar negeri. Berikut ini saya akan membagi pengalaman yang mungkin juga sangat berharga bagi kami sekeluarga, sebuah band kecil dengan harapan besar bagi diri kami sendiri. Selamat menikmati….

 

Click for Pictures & More >  majalahcobra.com

LANGITMUSIK.COM: MENGEMAS VISUAL UNTUK BAND

By Rio FarabiPada kesempatan kali ini saya (Rio Farabi) akan membagi cerita dibalik proses rancang grafis dari album White Shoes & The Couples Company. Grafis album pertama dan EP WSATCC sepenuhnya dikerjakan oleh kami sendiri (Album Vakansi kami kerjakan bersama Tony Tandun). Ini sendiri terjadi semata-mata karena kami terlalu excited dengan apa yang kami lakukan. Walaupun harus repot-repot dalam mengerjakannya toh hasil memuaskan. Lagi pula, diantara kami hanya Mela dan John yang mempunyai kerja tetap (sebagai seorang guru), selebihnya kami bekerja freelance. Karena itulah kami jadi punya banyak waktu untuk mengerjakannya.

Bagi kami, kemasan album sama pentingnya dengan hasil rekaman. Keduanya merupakan satu keutuhan yang saling berkaitan. Kami yakin produksi rekaman yang bagus, jika ditunjang artwork yang bagus, maka album tersebut akan menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati sampai kapan pun. Ketika kalian membeli album secara fisik, kalian sebenarnya sudah membeli sebuah artwork yang utuh.

Okelah, orang bisa beli album bajakan kami di lapak-lapak kaki lima, mengunduh gratis di internet, atau juga berbagi file dari komputer ke komputer. Kami sepenuhnya sadar dengan situasi seperti itu. Karenanya, dengan membuat kemasan album yang menarik, tentu nilai jual dari album itu sendiri akan bertambah. Apalagi cover albumnya dibuat (juga) oleh personil band itu sendiri, tentunya akan terasa lebih istimewa.

Album pertama kami yang berjudul “White Shoes And the Couples Company” sepenuhnya dirancang oleh kami sendiri. Semua anggota ikut memberikan kontribusi untuk sleeve design album ini. Meski album ini dirilis tahun 2005, produksi pembuatan artwork album sudah dimulai dari pertengahan 2004. Kala itu, kami sepakat kalo album ini adalah album dokumentasi dari kumpulan lagu-lagu kami, yang kelak akan kami tunjukkan ke anak cucu dengan bangga hati. Karena itulah, kami pun sepakat kalo design artwork album ini akan berbentuk seperti Album Foto. Ya, album foto keluarga yang isinya adalah foto-foto anggota keluarga, rekaman dari macam-macam kejadian, dan juga catatan-catatan yang sekiranya penting untuk di ingat.


Berfoto di depan rumah, adalah hal yang sangat umum. Silahkan buka kembali album foto orang tua kalian. Berfoto depan rumah, atau kadang bersama kendaraan pribadi, adalah suatu kebanggaan. Sebuah tanda kesuksesan dan juga keharmonisan.

 

Pertama, untuk album cover. Kami ingin album ini terlihat simple tapi elegan. Kami pilih warna dasar putih, dengan tulisan White Shoes & The Couples Company berwarna silver. Pada awalnya tulisan silver itu berupa plat besi tipis, menyerupai emblem, tapi karena kepentok harga produksi, jadilah ide plat itu kami sederhanakan. Cover ini nantinya akan berupa booklet. Sebuah album foto mini, berukuran Compact Disc. Tanpa plastic case seperti album CD pada umumnya.

Oh iya, di album ini  kami mempunyai ide untuk membuat  kolase dari foto-foto kami. Kolase seperti ini biasanya selain ada di album foto kadang juga di bingkai dan digantung diruang tamu. Sesuatu yang bisa dibagi untuk tamu-tamu yang berkunjung kerumah. Sekali lagi ini memperlihatkan keharmonisan keluarga dirumah. Foto-foto dalam lembaran kolase ini berasal dari koleksi foto-foto kami disaat kami berpergian sebagai band, dan beberapa disaat kami sedang rekaman. Beruntung, manajer kami selalu membawa kamera digital kemana-mana, jadi stok foto kami memang lumayan banyak.

 


 

Kami sangat bersenang-senang dalam mengerjakan album ini. Baik disaat rekaman maupun pada saat mengerjakan artwork untuk album ini. Banyak ide-ide muncul ketika proses merancang cover album ini, seperti cara penulisan lirik-lirik lagu. Kami meminjam mesin tik bendahara kantor organisasi seni ruangrupa untuk menulis lirik di album ini. Lirik ditulis diatas kertas berwarna dan ditambah dengan tempelan stiker-stiker lama kami, dan hasilnya sangat memuaskan.

 


Stiker-stiker yang ada di album ini juga mempunyai cerita unik, berawal dari pertemanan kami dengan Bambang Toko, seorang seniman asal Jogja. Dari beliaulah kami mendapatkan info stiker-stiker yang pernah menghibur ibukota dengan pepatah-pepatah bijaknya. Selain kata-katanya yang lucu, stiker ini mempunyai image yang sangat khas. Sangat Indonesia. Faktor ini jugalah yang membuat kami memasukkan stiker kedalam design album kami. Ada beberapa yang kami ambil langsung, ada juga yang kami edit dan lay-out ulang sesuai dengan kebutuhan designnya.

Satu hal yang paling penting buat kami adalah, di album ini kami ingin sekali menunjukkan kota Jakarta. Kami berfoto di beberapa landmark penting yang jarang ter-expose. Kami lebih memilih gedung RRI (Radio Republik Indonesia), Museum Gajah, Air mancur depan Monas, dan Bank Indonesia dibanding HI atau Monas yang sudah terlalu umum. Selanjutnya landmark-landmark unofficial lainnya yang selalu kami buru dalam setiap foto di album kami berikutnya. Tempat terakhir kami berfoto adalah didepan BB’s café menteng. Tempat ini spesial buat kami, apalagi tempat ini jugalah yang menjadi penanda lahirnya scenebaru di kota Jakarta.

 

 

Yang terakhir adalah ilustrasi sepasang pemuda-pemudi dengan tagline “Untuk Anda Yang Berjiwa Remaja”. Ilustrasi ini diambil dari beberapa stiker dan kemudian dikolase sedemikian rupa sehingga membentuk image baru. Ilustrasi ini dibuat sebagai artwork penutup, dan tagline dipakai sebagai statement/pernyataan sikap kami di album ini bahwa album ini dibuat hanya bagi anda yang berjiwa “remaja” (yang mana kita tahu bahwa masa remaja adalah masa dimana semua menjadi lebih menggelora, hasrat lebih menggebu)

Waktu SD saya membeli album Blood Sugar Sex Magik dari Red Hot Chilli Pepper. Sesampainya dirumah, kasetnya langsung saya putar, dan bernyanyi, lompat-lompat sambil membaca lirik yang ada di cover. Kejadian seperti ini berlangsung terus sampai saya kuliah (walaupun ga selalu lompat-lompat! hehehe…!). Mungkin hari ini bila ingin mencari lirik dari lagu favorit, kita bisa langsung googling. Tapi membeli sebuah album, membuka bungkus plastik, melihat artwork dan foto-foto didalam sleeve-nya, serta bernyanyi sambil membaca lirik itu sangat menyenangkan.

Pengalaman inilah yang ingin saya berikan kepada mereka, pembeli album yang sudah kami buat. Membeli album adalah investasi. Bisa jadi harta yang sangat berharga buat generasi dibawah kita. Karena karya album rekaman musik adalah karya seni yang sifatnya abadi.

Album ini diproduksi dalam bentuk CD dan kaset. Album ini pun sudah dirilis di Amerika Serikat (oleh Minty Fresh, yang distribusinya juga ke Kanada, Amerika Selatan, Australia dan Jepang), Taiwan (AvantGarden Records) dan Korea Selatan (Boss Moon, Beatball).

Sebagai penutup catatan ini, kalian bisa lihat 3 desain yang berbeda dari rilisan album pertama kami. Yaitu rilisan di Indonesia (Aksara Records & Universal), Amerika Serikat (Minty Fresh), dan Taiwan (AvantGarden Records) pada gambar ilustrasi postingan ini! Lalu, jika berkenan, review album ini dari sebuah website terkemuka di Amerika Serikat bisa kembali disimak disini.

 

 

Baca juga White Shoes & The Couples Company dan Musisi-musisi lainnya bercerita berbagi pengalaman, inspirasi dan kesukaan di LANGIT MUSIK.COM

 

LANGITMUSIK.COM : MY INDONESIAN MUSICAL HEROES (TOP 8)

MY INDONESIAN MUSICAL HEROES (TOP 8)

wsatcc doc

by Ricky Surya Virgana

Sedikit cerita tentang 8 musisi asal Indonesia yang menjadi pahlawan di perjalanan bermusik gue. Hihihihi…!

*jadi malu*

Amir Pasaribu (Cellist, Composer) 

Tahun 2005 adalah kali pertama saya mengenal namanya. Tepatnya saat guru cello saya mengadakan resital di Gedung Kesenian Jakarta dan membawakan karya Amir Pasaribu berjudul, Suite For Cello & Piano. Ketika saya mendengar karya tersebut dimainkan, saya langsung kagum terhadap Amir Pasaribu. Kekaguman itu pulalah yang akhirnya membuat saya mulai mencari tahu segala sesuatu tentangnya.

Amir adalah orang yang tidak pernah lelah belajar. Bayangkan saja, dia mendalami piano dan pelajaran musik dari Fr. Paulus dan Fr. Gustianus. Setelah itu beliau belajar cello dari patron pengajar cello di Indonesia, Varvolomeyef dan Joan Giessens.

Pada tahun 1950,  Amir terkenal akan kritiknya yang sangat keras pada pemerintah. Ia selalu mengkritik kinerja manajemen Orkes Radio Republik Indonesia yang menurutnya sangat lamban dalam melakukan sesuatu.

Meski kritis, beliau sering mendapat tugas Negara untuk melanjutkan studi musik ke luar negeri. Beliau jugalah orang Indonesia pertama yang mengenyam pendidikan musik klasik di luar negeri. Lalu pada tahun 1963, beliau kembali  melanjutkan pendidikan cellonya di Musahino Music School, Jepang.

Sepanjang hidupnya, beliau sendiri pernah bekerja sebagai cellist di Radio Symphony Orchestra Oshio Kioku Kangen Goku. Lalu menjabat sebagai direktur Sekolah Musik Indonesia di Yogyakarta dan juga guru cello dan piano di pusat kebudayan Suriname.

Setelah kemerdekaan Suriname di tahun 1975, beliau lantas hijrah dan menjadi konduktor di Paramibo Symphony Orchestra. Dua puluh tahun kemudian, beliau pn memutuskan kembali ke Indonesia dan menetap di Medan hingga akhirnya menghembuskan nafas pada 10 Februari 2010 lalu, diusianya yang ke 94 tahun.


Slamet Abdul Sjukur (Composer)

Taman Ismail Marzuki adalah tempat yang memperkenalkan saya dengan beliau. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah, “Beliau terlihat classic rock untuk seorang musisi classic contemporer.

Sebelum bertemu dengannya, saya sering mendengar kabar miring mengenai beliau. Kebanyakan sih mengatakan beliau adalah seseorang figure eksentrik.

Beliau sendiri mengenyam pendidikan musik klasik di Sekolah Musik Indonesia (SMIND) Yogyakarta (sekarang SMM). Setelah itu beliau mendapat beasiswa untuk belajar di Ecole Normale de Musique Paris, Perancis. Di sana beliau mempelajari komposisi pada seorang maestro musik bernama Olivier Messiaen.

Semasa tinggal di Perancis, beliau mendapatkan banyak sekali penghargaan bergengsi yang diberikan oleh pemerintah Negara tersebut atas karya-karyanya.

Antara lain Bronze Medal dari Festival de Jeux d’Automne di Dijon (1974), Golden Record dari Academie Charles Cros untuk karyanya “Angklung” (1975), Zoltan Kodaly Commemorative medal di Hongaria (1983), Perintis Musik Alternatif dari majalah Gatra (1996), Millenium Hall of Fame of the American Biographical Institute (1998), dan Officier de l’Ordre des Arts et des Lettres (2000).

Ketika kembali ke tanah air, beliau pun tetap aktif berkarya dan mengajar di sejumlah kampus serta Institusi Musik. Baik di Jakarta, Solo, juga Surabaya.


Jack Lesmana (Guitarist, Composer, Indonesian Jazz Hero)

Siapa yang tidak kenal nama ini?

Namanya hampir selalu terpampang di setiap album musisi lawas tanah air. Baik sebagai gitaris, komposer ataupun produser, terutama dalam rekaman-rekaman rilisan Irama Records. Bahkan namanya bisa disebut sebagai bapak musik jazz Indonesia.

Dalam usahanya mempopulerkan musik jazz, beliau selalu mempunyai gagasan kreatif. Seperti di pertengahan dekade ’70-an diamana ia mengasuh acara TVRI, beliau berhasil memperkenalkan Nada dan Improvisasi musik jazz ke pendengar musik pop. Selaiun itu, beliau pulalah yang membetuk The Indonesia All Stars.

Beberapa musik dari film juga pernah digubahnya. Antara lain, Seribu Langkah dan Malam Tak Berembun (1961), Violetta, Anak Perawan Disarang Penyamun (1962), dan Menantang Maut (1978).

Bagi saya, meski beliau sudah berpulang ke pangkuang Sang Pencipta pada 17 Juli 1988 lalu, karya-karyanya tetap kekal abadi menjadi inspirasi bagi saya.


Pranadjaja (Vocalist)

Lahir di Kemertiran, Yogyakarta, pada 11 Desember 1929, Pranadjaja dikenal sebagai penyanyi dan musikus Indonesia ternama. Namanya juga dinobatkan sebagai bapak musik seriosa di tanah air ini karena keuletannya dalam mempertahankan musik yang sempat popular di Indonesia pada dekade ’50-an.

Setelah beberapa kali memenangkan lomba Bintang Radio RRI katagori seriosa, Pranadjaja mendapat beasiswa untuk belajar musik dan vokal di Tokyo University of Arts, Jepang dan belajar kepada Prof. Gerhard Hush dan Nakayama.  Selama berada di Jepang, beliau juga seringkali bernyanyi untuk radio NHK.

Sekembalinya ke tanah air, beliau melakukan sedikit riset tentang sekolah musik vokal hingga akhrinya memutuskan untuk mendirikan sekolah musik Bina Vokalia pada tahun 1972. Selain itu beliau juga mengajar dan menciptakan karya-karya yang kerap menunjukan kekayaan alam Indonesia yang tiada tara.

Dedikasinya terhadap musik pun terbukti. Setelah membawakan lagu favoritnya O Sole Mio di panggung pada 2 Nevember 1997 silam, beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya.


Mochtar Embut (Composer)

Pada usia lima tahun, Mochtar Embut sudah bisa bermain piano. Empat tahun kemudian beliau sudah berhasil menciptakan sebuah lagu anak-anak berjudul Kupu-Kupu. Pada usia 16 tahun, ia pun telah rampung menyelesaikan karya pertamanya untuk piano. Hebatnya, semua yang dilakukannya kala itu adalah hasil belajar secara otodidak.

Karya ciptaannya bagai cermin hidupnya yang sepi, pemalu, dan tak suka publisitas. Tidaklah mengeherankan kalau dia lebih senang menyurukkan dirinya di belakang layar.

Meski begitu, ketika mengikuti festival lagu pop internasial di Jepang pada tahun 1971, lagu ciptaannya,With the Deepest Love from Jakarta sukses mendapatkan penghargaan dari panitia. Kala itu, ia juga bertindak sebagai dirigen orkes yang memainkan lagu ciptaannya dan membuatnya menjadi orang Indonesia pertama yang memimpin orkes simfoni Tokyo. Kesuksesan tersebutlah yang akhirnya membuat banyak orang menyadari keberadaannya.

Semasa hidupnya, Mochtar Embut telah menghasilkan lebih dari 100 lagu. Beberapa di antara lagunya seakan tinggal abadi dalam kenangan. Seperti: Di Sudut Bibirmu, dan Tiada Bulan di Wajah Rawan. Meski terbilang fenomenal, entah mengapa Mochtar enggan belajar ke luar negeri.

Karena bekerja nyaris tak kenal lelah, Mochtar pun terserang penyakit liver dan kanker hati.  Ia kemudian dirawat di Rumah Sakit Borromeus, Bandung sampai tahun 1965 hingga akhirnya wafat pada 20 Juli 1973.

Sebelum kembali ke pangkuan Sang Pencipta, Ia sempat menyelesaikan Kumpulan Lagu Populer I, sebuah buku yang memuat 27 lagu rakyat Indonesia dan sembilan lagu Barat.

“Dengan buku ini saya bermaksud mengetengahkan kepada dunia luas bahwa Indonesia juga memiliki lagu-lagu rakyat yang cukup berbobot,” katanya jauh sebelum wafat.

*Brrr… Merinding!*


Ismail Marzuki (Composer)

Ketika mendengar namanya, yang berputar di kepala saya adalah kata-kata maestro, komposer dan multi instrumentalis. “Sabda Alam: adalah karya beliau yang paling pertama akrab di telinga saya sekaligus karya beliau yang paling populer di kalangan masyarakat Indonesia.

Saya ingat, lagu Rayuan Pulau Kelapa adalah lagu yang saya bawakan ketika ujian EBTA Praktik sewaktu di Sekolah Dasar.

Sejak kecil beliau sudah menunjukan ketertarikannya kepada musik. Ini terbukti karena beliau sangat gemarmendengarkan rekaman piringan hitam lagu-lagu dari Perancis, Italia, atau lagu-lagu berirama samba dan tango.

Beliau memulai debut sebagai pemusik di usia 17 tahun. Waktu itu, beliau berhasil mengarang lagu O Sarinah (1931).

Di tahun 1936, pria yang akrab dipanggil Maing ini memasuki perkumpulan orkes Lief Java sebagai pemain gitar dan saksofon.

Dan sejak tahun 1930-an hingga 1950-an, beliau menciptakan sekitar dua ratus lima puluh lagu dengan berbagai tema dan jenis aliran musik yang memesona. Hingga saat ini, lagu-lagu karyanya yang abadi masih dikenang dan terus berkumandang di masyarakat.

Dalam dunia seni musik Indonesia, kehadiran putra Betawi ini mewarnai sejarah dan dinamika pasang surutnya musik Indonesia. Tak hanya itu, band yang bernama Tropical Sound Group asal Belanda kerap merekam karya-karya dari beliau ke dalam bentuk CD.

25 Mei 1958 adalah hari terakhir beliau di dunia.


Bing Slamet (Multi Talent Artist)

Saya tidak pernah menyangka sebelumnya kalau beliau adalah seorang musisi handal dan piawai memainkan gitar. Sampai pada suatu hari saya mendapatkan sebuah piringan hitam bertuliskan nama sebuah grup band jaman dulu, Eka Sapta.

Pada piringan tersebut tertulis tertulis nama beliau dan sang maestro biola Indonesia, Idris Sardi. Setelah mendengarkannya, saya pun langsung terpukau.

Lahir di Cilegon, 27 September 1927, anak dari seorang mantri pasar ini tidak hanya pandai menyanyi. Tapi juga terampil dalam memainkan gitar, sampai-sampai disebut sebagai Abdullah Kecil (seorang penyanyi tenar di jaman itu).

Selain menyanyi, beliau juga aktif di lawak. Pada dekade 1950-an beliau membentuk grup lawak Los Gilanos dengan Cepot dan Mang Udel, serta secara tetap mengisi acara lawak di RRI. Selain itu, beliau juga membentuk grup Trio Lawak SAE bersama Edy Sud dan Atmonadi.

Selain melawak, beliau juga membintangi beberapa buah film termasuk Ambisi (1973) yang membuat hati saya terpincut dengannya.

Pada 17 Desember 1974, Bing menghembuskan nafas terakhir di rumah sahabatnya Eddy Sud, di Jakarta. Dengan iringan isak tangis, beribu orang mengatarkan Bing ke tempat perisirahatn terakhirnya.


Yazeed Djamin (Pianist, Composer)

Mungkin bagi para pemain musik klasik di Indonesia nama beliau terkesan angker dan mengerikan. Apalagi sifatnya sangat temperamental terhadap para musisi. Saya sendiri belum pernah merasakan bermain di bawah baton beliau. Tapi begitu mengetahui bahwa beliau lah yang mengubah Paris Berantai dan Indonesia Pusaka yang dimainkan oleh World Youth Orchestra, saya pun tak bisa berkata-kata.

Yazeed mulai belajar piano di Yayasan Pendidikan Musik (YPM). Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan di Peabody Concervatory of Music di Baltimore (USA) serta meraih gelar Master of Music pada tahun 1988 dari Catholic University of America.

Selama di Amerika Serikat, beliau sering kali memenangkan kompetisi piano, di antaranya Peabody Piano Concert Competition di tahun 1979. Ia pun aktif bermain solo piano yang diiringi oleh bermacam orkestra dari berbagi Negara.

Sekembalinya ke Indonesia, beliau mendirikan The National Chamber Orchestra atau juga dikenal dengan NSO (Nusantara Symphony Orchestra). Radang otak merenggut nyawanya pada 6 September 2001.


Well, merekalah yang menjadi inspirasi bermusik bagi saya hingga kini.

Bagimana dengan kalian?

 

Cheers,

Ricky Surya Virgana

 

Baca juga White Shoes & The Couples Company dan Musisi-musisi lainnya bercerita berbagi pengalaman, inspirasi dan kesukaan di LANGIT MUSIK.COM 

 

______________________________________________________________

 

 

Domestic Groove: APRILIA APSARI

Domestic Groove: APRILIA APSARI

April 5th, 2011

DOMESTIC GROOVE ~ Celeb’s Chosen Seven is my biweekly column in The Beat (Jakarta) mag. Basically it’s an interview via e-mail which focuses on small, intimate, domestic stuff; what Indonesia’s public figures are really into, musically speaking.

For the 13th edition I went upclose-and-personal with Aprilia Apsari.

APRILIA APSARI
Singer, Visual Artist, Bicyclist

 

What music are you into at the moment?
Anything seems right at the moment, nothing in particular. I can listen to The Chiffons in the morning, M.I.A. or Bomfunk MC’s while riding my bicycle or even Chrisye’s early stuff. But lately I’m very much into the Detroit sound—that classic Motown funk or old school hip hop all over again.

What was the first record you bought—any interesting story behind it?
The first record I bought was an album of MC Skat KatAThe Adventures of MC Skat Kat and the Stray Mob. I bought it because of the album cover which had this bunch of cartoon characters I saw in Paula Abdul’s “Opposite Attract” music video. At first I didn’t care what it sounded like, and then after few weeks I kinda liked it, although at that time for me nothing sound more greater than The New Kids On The Block, you know… an elementary girl and NKOTB, no need for a further explanation!

What are your all-time favorite albums? Why?
The Original 1977 Movie Sound Track ofABadai Pasti Berlalu. I can say I’m a Big fan of this movie. I love Christine Hakim’s performance, the pretty boys Roy Marten and Slamet Rahardjo, the fashion, the setting and the music of course, seems like everything is just right. On this album, the arrangement and the lyrics are so well written, I think this is the best collaboration of Yockie Suryoprayogo, Chrisye, Erros Jarot and Guruh Soekarno Putra.

The second is Jackson 5: The Ultimate Collection. The collection features selections from the group between 1969 and 1975. This always makes me sing along and makes me wanna wear my dancing shoes.

What was the worst record you ever purchased?
C.M.B. by Color Me Badd—so much for those foolish elementary school memories! My friends and I were seeking another boy band that can suited us other than NKOTB… but it surely failed…

Who do you want to be, other than yourself, next time you reincarnate?
A Chef ! Putting something delightful onto a plate and making people happy eating is my other obsession.

What songs do you choose to start your weekend?
Something upbeat. Maybe with top of the lungs vocal Aretha Franklin’s “Respect”, or something calm but groovy like Soulhawks’ “Maybe So, Maybe No” (but I like the Mayer Hawthorne version which is sexier). Or even lots of tribal percussion beat like “Sunshowers” by M.I.A while I’m rolling my deodorant. …You can imagine I do a lil’ dance.

And song you choose to end your weekend?
Dave Brubeck Quartet, “Take Five”

After White Shoes & The Couples Company releasing Vakansi, Sari has been occupied cruising from one stage to another to promote the album.

Besides playing music, Sari is also busy blogging about her passion for art & bicycles. With one of her friend she’s about to start introducing a bicycle clothing line.

__________________

*This interview was originally published on The Beat Jakarta #36, April 2011
*Photo credit: Aditya Fachrizal Hafiz, White Shoes & The Couples Company

via Rudolf Dethu.Com

KAYU JATI BISA BERMUSIK JUGA

KAYU JATI BISA BERMUSIK JUGA
oleh John Navid

• Selama ini kayu adalah elemen yang paling bagus sebagai bahan dasar untuk pembuatan instrumen karena sifatnya dalam menyerap dan memantulkan suara tidak diragukan lagi. Namun, tidak semua kayu dapat dijadikan bahan dasar pembuatan drum. Kayu tersebut harus memenuhi beberapa syarat khusus, seperti : kuat, keras, tapi mudah dibengkokkan, tersedia dalam jumlah yang banyak, terlihat menarik, dll. Drum yang kita pakai selama ini merupakan barang impor dari luar negeri. Sehingga Kayu-kayu yang populer dipakai untuk kerangka drum adalah kayu yang mudah didapatkan oleh para produsen drum di sana, seperti : maple, birch.

Penggunaan Kayu Jati untuk Kerangka Drum Set
Ada dua faktor dasar yang dapat membuat suatu drum menjadi bagus. Faktor pertama adalah bahan dan faktor kedua adalah cara pembuatan. Selama ini kayu yang dipakai untuk membuat drum yang telah teruji adalah kayu yang keras. Di negara 4 musim kayu yang keras adalah kayu berwarna putih, contohnya: maple, birch. Tetapi di negara 2 musim seperti Indonesia kayu yang keras adalah kayu yang berwarna gelap seperti: jati, ebony.

Kayu yang biasa untuk pembuatan instrumen di Amerika adalah maple, sedangkan di Eropa kayu birch. Kayu maple juga mempunyai jenis yang bermacam-macam, seperti : hard maple, sugar maple, rock maple, bird eye maple. Jenis-jenis maple ini sebenarnya masih dalam satu rumpun. Karena tumbuh di tempat yang berbeda dan cara pemotongannya yang berbeda maka maple tersebut menjadi jenis yang berbeda. Misalnya di bongkol kayu dekat akar kalau dipotong secara horizontal maka akan menjadi bird eye maple. Kalau sugar maple lebih ke bagian di atas sedikit dari batang.

Kayu-kayu tersebut tidaklah murah karena di kuota (dibatasi pemakaiannya oleh pemerintah). Dan jika ingin menebang satu pohon maple mereka harus menanam lagi beberapa pohon yang sama. Selain itu juga tidak boleh menebang pohon yang berusia tertentu. Karena permintaan pasar yang besar dan persediaan yang sedikit maka harganya menjadi mahal.

Untuk menekan biaya pengeluaran, maka industri pembuatan drum mulai mencari kayu-kayu alternatif yang ada di Asia dan Afrika, misalnya mahogany, philiphine mahogany, basswood, falkata. Tapi kualitas kayu ini berada pada kualitas menengah ke bawah.

Drum terdiri dari 3 level, yaitu: beginner (pemula), performance, profesional. Untuk kualitas pemula dan performance biasanya menggunakan kayu-kayu alternatif, dan  kelas profesional menggunakan kayu maple dan birch.
Berbicara mengenai kayu alternatif, sebenarnya di Indonesia juga mempunyai potensi yang sama. Terbalik dengan negara 4 musim dimana kayu yang keras adalah kayu putih dan kayu yang lunak adalah kayu gelap, maka di Indonesia kayu yang putih merupakan kayu yang lunak dan kayu gelap adalah kayu yang keras. Kayu-kayu exotic banyak terdapat di Indonesia, dan kayu yang dipakai untuk industri pun sekarang masih mewakili exotic. Kayu yang dimaksud tersebut adalah kayu jati. Kayu jati mudah didapatkan di Indonesia, selain lebih murah, kayu jati juga bersifat anti rayap karena ada suatu zat tertentu yang dimiliki oleh kayu jati yang rasanya tidak disukai oleh rayap.

Kayu jati merupakan kayu kelas satu karena kekuatan, keawetan dan keindahannya. Secara teknis, kayu jati memiliki kelas kekuatan I dan kelas keawetan I. Meskipun keras dan kuat, kayu jati mudah dipotong dan dikerjakan, sehingga disukai untuk membuat konstruksi berat, seperti : jembatan, bantalan rel, struktur bangunan sampai ke furniture dan ukir-ukiran. Apabila diampelas halus, akan  memiliki permukaan yang licin dan seperti berminyak. Pola-pola lingkaran tahun pada kayu teras nampak jelas, sehingga menghasilkan gambaran yang indah.  Kekurangannya, kayu jati bobotnya lebih berat daripada kayu maple dan birch.
Sekarang tinggal bagaimana mengelolanya supaya menjadi suatu produk yang bagus.

Para pemain drum biasanya mempunyai ciri permainan dan suara yang berbeda-beda dan juga biasanya mereka lebih suka jika ciri dan suara drum mereka eksklusif. Akan tetapi produk drum yang dijual di pasaran biasanya dibuat secara massal dan untuk kepentingan umum saja. Jadi agak susah jika ingin mendapatkan bentuk dan suara  yang eksklusif. Untuk itu harus memesan secara custom (personal).

Hal tersebut sudah bisa dilakukan di Indonesia karena sudah ada sebuah perusahaan yang dapat memenuhi kebutuhan para pemain drum di Indonesia. Dikenal dengan nama Harry Murti, pembuat drum yang telah berpengalaman selama 15 tahun. Dengan cerdas menggunakan kayu yang berasal dari Indonesia sebagai bahan dasar pembuatan drum customnya juga sebagai industri drum lokal pertama buatan Indonesia.

• Produk tersebut dikenal dengan nama Harry’s Drum Craft. Penampilan dan suara drum yang dihasilkan sesuai dengan karakter permainan si pemain drum, karena biasanya sebelum proses pembuatan drum dilakukan, si pembuat drum melakukan pendekatan untuk memahami karakter si pemain drum tersebut. Harganya juga lebih murah daripada jika harus membeli  produk impor lainnya dengan kualitas atas di toko-toko musik.

Sekarang Harry’s Drum Craft sudah banyak digunakan oleh para musisi pemain drum dan artis-artis di Indonesia dan Internasional, seperti: Didi Riyadi (Element), Widi (Malique & D’Essential), Konde (Samson), John Navid (White Shoes & the Couples Company), Aksan Syuman (Potret), Budhi Haryono (ex Gigi), Inisisri (Kantata Takwa), Marcello Pettiteri (Luluk and Helsdingen Trio – Belanda) Dion Parson (Herbie Hancock –USA), Laura Figy Band – USA, Gullli Briem (Mezzoforte – Iceland) Mickey (Native Soul – New Zealand), Carola Grey (Noisy Mama – Jerman) dan musisi lainnya.

Di samping itu juga menjadi penulis tetap/kontributor di majalah AudioPro dari 2001 hingga sekarang. Penulis dari majalah MUMU yang terbit tahun 1998-2001 ini, sering dipakai sebagai drummers supplies untuk artis-artis International, seperti : Spin Doctor, Prodigy, Diana Krall, Safri Duo, Helloween, Blue, Daniel Bedingfield, Incognito,Laura Figy, Luluk & Helsdinge Trio, Hoobastank, The Bravery, Delarious, Tony Prabowo “King’s Witch”, dll.

Membantu beberapa proses rekaman para musisi lokal, sebagai sound advisor dan drum supplies , seperti: Baron, Element, White Shoes & the Couples Co. , Load, Potret, Vina Panduwinata, Erwin Gutawa Project, Tompi, Reborn, Innisisri, Chlorophyl,dll.

Pada tahun 2005 mendirikan Jakarta Drum School yang bertempat di daerah Jakarta Selatan.

Untuk info detail tentang Harry’s Drum Craft bisa langsung ke website mereka

Click> Harry’s Drum Craft Website

(foto dok.wsatcc, John Navid, Sari Julia)

Miss Sari Talks About Bicycles on Jakarta Post

Aprilia Apsari:: Bicycles are more honest

Tifa Asrianti, The Jakarta Post, Jakarta | Sun, 05/30/2010 10:37 AM | People

Aprilia “Sari” Apsari, lead singer of the indie band White Shoes and The Couples Company, knows that riding a bicycle is good for her health and good for her wallet. The girl who used to ride a Vespa scooter said she has returned to her old habit, bicycling.

If I have a few days off, I work on my drawing projects or go on a date with my boyfriend. On Sunday mornings, I like to go bike riding with my best friends.  I bike around Cikini, Menteng and Senayan.

I started biking again over the past couple of months, but I’ve been riding a bike since junior high school. I commuted from home to school by bike. It was a 2.5-kilometer long trip, so I’m used to riding. When I learned that some of my best friends were biking, it was a wake-up call for me to start riding again.  Now I really enjoy it.

I use a fixed-gear bike. I choose the bike because it is more fun to ride. It is also better suited for city biking.

Riding bicycles is good for many of reasons. First, it saves me lot of money, because I don’t have to spend much on gasoline. Second, since people are the bike’s source of energy, you don’t need an engine. Riding bikes is good for our health.

dogbar02

Sari operate a blog called CIXIE CHIX with Kakatiara (The Adams) , is all about girls & bicycles.

at the old town

If you google “bicycle”, you’ll find many wise quotations with the word bike, but not “motorbike”. The word bicycle is more honest.

I don’t bike to work because I usually share a ride with friends or we’ll take a taxi together. I used to ride a Vespa scooter, but I have to leave it at home because it is getting old and needs a lot of money to maintain.

I also spend my days off cooking with Aprimela, who is also in the band. We cook different food, from Indonesian to Italian. Sometimes we exchange recipes. We don’t have a specific menu. One thing I usually make are pancakes, because they’re simple and easy. Mela likes cooking squid with green chili. You can see how different our preferences are. We rarely cook the same food. We complement each other.

photo credit : John Navid & Aditia Windiko

via JAKARTA POST

Rock-n-Roll Exhibition: NONA SARI

Edition: January 19, 2010

Rock-n-Roll Exhibition: NONA SARI

Curator: Rudolf Dethu

Teman Abadi Yang Tak Pernah Mengecewakan

:: Playlist, notes & photos, handpicked & written by Sari Herself ::

Saya sangat bersyukur bisa hidup di jaman ini, dimana kita bisa mengoleksi semua lagu-lagu yang ada dari berbagai era.

 

Salah satu yang menjadi favorit adalah lagu cinta dan kebanyakan penyanyinya adalah perempuan, mungkinkah karena saya perempuan? Atau tidak, mungkin ini hanya masalah selera.

Yang jelas begitu banyak lagu-lagu yang sudah menolong di kala saya sedang jatuh dan menyemangati di kala mulai bangkit.

Begitu luar biasa dampak sebuah lagu, seperti seorang teman yang setia, mereka hidup dan selalu ada di kala kita membutuhkan. Intinya saya tidak bisa hidup tanpa lagu-lagu ini, sebenarnya masih banyak lagu-lagu lainnya yang ingin saya bagi namun karena keterbatasan ruang, mungkin di lain kesempatan hehehe..

Saya tidak pernah mematok pada genre tertentu yang mesti saya dengarkan yang jelas if they could rock my world, they are good! (for me at least.. hehehehe…).

Maka perkenalkan teman-teman dekat saya yang setia ini, selamat menikmati.

 

The Playlist:
01. Brigitte Bardot – Tu Veux Ou Tu Veux PasSebagai pembuka saya persembahkan, Tu Veux Ou Tu Veux Pas , yang artinya adalah Mau atau Tidak?—monolog tentang keraguan seseorang akan sebuah pilihan. “Life is beautiful, you should not complicate” begitulah kira-kira pesan lagu ini dan Brigitte Bardot menaburkan pesonanya lewat lagu ini, sungguh menggemaskan.
02. Dara Puspita – Pusdi
Dara Puspita terbentuk pada tahun 1964 di Kota Pahlawan, Surabaya. Band ini memiliki sejarah tur yang sangat panjang hingga ke daratan Eropa—pantas saja platnya jadi rebutan para kolektor internasional. Siapakah gerangan Pusdi yang dimaksud? …Entahlah, namun saya suka sekali lagu-lagu dari Dara Puspita, salah satunya Pusdi ini, mungkin sekarang sudah langka kita temukan pria bernama Pusdi.
03. Millie Small – My Boy LollipopLagu ini di buat dipertengahan 1950-an, awalnya di bawakan oleh penyanyi Amerika, Barbie Gaye, namun di tahun 1964 seorang penyanyi asal Jamaica, Millie Small, membuat terobosan bahkan diperhitungkan ini adalah awalnya musik Ska mulai menjadi hits!.
04. The 5,6,7,8’s – I’m BlueBand asal Tokyo ini terbentuk di tahun 1986, mulai mendunia ketika mereka mengisi original soundtrack dari Kill Bill I. Jadi apabila anda sedang sedih namun tidak ingin terlihat sedih, lagu ini mungkin dapat mewakilkan perasaan anda, sebuah pelarian yang pas: just put on your headphone (or super hot speaker) & turn up the volume. You’ll be okay after that… he he he…
05. The Jam – A Town Called MaliceThe Jam berdiri di sekitar akhir tahun 1970-an. Sebuah band dengan formasi trio yang dipimpin oleh Paul Weller, lagu-lagu mereka terkenal bertempo cepat dan penuh skill. Lirik sarat dengan topik sosial yang menyangkut pautkan dengan ruang lingkup politik yang sedang berlangsung di zamannya.06. Talking Heads – New Feeling

Talking Heads berdiri di tahun 1974 di New York. Seperti biasa David Bryne, sang vokalis, menyanyikannya dengan sangat unik, patahan tiap kalimat yang tidak lazim menjadi ciri khas dalam lagu-lagu Talking Heads. Lagu ini menceritakan seorang yang hendak mengungkapkan perasaannya kepada orang lain tanpa terdengar cheesy.

07. The B 52’s – Love ShackTerbentuk di Athens, Georgia, Amerika Serikat, di tahun 1976, B 52’s memiliki penuturan lirik yang menarik, hampir semua lagunya sangat deskriptif, seperti dibacakan dongeng sebelum tidur hanya saja bedanya kita tidak ingin pernah tertidur dan terus mendengarkan cerita-cerita yang lainnya.08. Michael Jackson – I Wanna Be Where You Are

Lagu cinta yang sangat menyenangkan, ini adalah debut pertama Michael Jackson dalam dunia bersolo karier, saat itu usianya kurang lebih 14 tahun, dirilis Motown Recods di tahun 1972 dalam album Got To Be There.

09. The Supremes – You Can’t Hurry LoveMereka adalah vocal group wanita yang paling sukses sepanjang sejarah Motown Records. Terbentuk pada tahun 1959 dengan nama The Primettes, dari Detroit, Michigan. Dengan formula repertoire Doo-Wop, Pop, Soul, Broadway Show Tunes, Psychedelic Soul, dan Disco; di pertengahan tahun 1960-an mereka sukses secara mainstream dengan Diana Ross sebagai vokalis utama.
10. Nico – These DaysWanita cantik kelahiran Jerman ini populer ketika dia ikut bermusik bersama The Velvet Underground dan sebelumnya di akhir tahun 60’an ia sudah sangat dikenal dengan lagu-lagu yang ditulisnya sendiri. Lagu These Days ada di dalam album solo perdananya, Chelsea Girls, yang rilis di tahun 1967.
11. Smoking Popes – Just Broke UpSmoking Popes terbentuk di tahun 1991 di Chicago, Illinois. Punk Rock dengan vokal bersenandung a la Frank Sinatra atau Tony Bennett. Saya mulai mendengarkan mereka ketika masih duduk di bangku SMA, dan lagu-lagu mereka bener-benar mencuri hati saya.12. Max Ticoalu – Dara Aju

Di departeman gombalisme (rayu-merayu) memang tahun 60’an sepertinya adalah zaman keemasannya. Lirik ditulis begitu indah, puitis dan tidak berkesan murah, semuanya begitu manis dan membekas.

13. Ruby & The Romantics – My Summer LoveGrup vokal ini populer di tahun 1960-an. Dari namanya memang tidak salah mereka selalu menyanyikan lagu-lagu seputar drama percintaan dan sudah barang tentu mengungkapkannya dengan sangat romantis.
14. Koes Bersaudara – Angin LautKoes Bersaudara adalah nama hit nasional mereka sebelum berubah nama menjadi Koes Plus. Dengan sejarah perjuangan bermusik yang berat, masuk penjara karena dianggap memainkan musik yang mewakili politik kapitalis, karena saat itu (akhir 1960-an awal 70-an) di Indonesia memang sedang garang-garangnya menggerakkan anti kapitalis.15. Iggy Pop & The Stooges – I Wanna Be Your Dog

Lagi ini dirilis pada tahun 1969 dan semenjak itu berkembang menjadi anthem. Banyak band yang membawakan kembali lagu ini diantaranya adalah Slayer, Frankenstein Drag Queens From Planet 13, Joan Jett and the Blackhearts, Vicious White Kids, Red Hot Chili Peppers, Sonic Youth, Cage the Elephant, Mission of Burma, Chris Whitley, Swans, Uncle Tupelo, Alejandro Escovedo, Emilie Simon, Styles of Beyond, The House of Love, Green Day, Ida Maria, dan banyak lagi lainnya.

16. The Kinks – You Really Got MeThe Kinks mulai terbentuk di tahun 1964, band dari dataran Britania ini mulai dikenal semenjak mereka meledakkan single ketiga mereka di tahun yang sama dengan lagu You Really Got Me.
17. The Skatalites feat. Marguerita – Woman A ComeThe Skatalites adalah band Rocksteady/Ska/Reggae asal Jamaika yang terbentuk di awal tahun 60-an, dimana belahan bumi lainnya senang memainkan musik Rock ‘n Roll, band ini tetap mengguncang dengan apa yang mereka bawakan. Musik mereka seperti memiliki roh. Bagi saya, mendengarkan musik mereka adalah sebuah meditasi.
18. The Mamas & The Papas – Glad to Be UnhappyThe Mamas & The Papas membawakan lagu ini pada tahun 1964. Lagu ini buat oleh Richard Rogers dan liriknya ditulis oleh Lorenz Hart pertama dibawakan depan dalam pertunjukan musical On Your Toes. Semenjak itu banyak musisi yang membawakan lagu ini di antaranya adalah Frank Sinatra (1955), Billie Holiday (1958) , Nancy Wilson (1969), Barbra Streisand (1973) dan Wynton Marsalis (1998).
19. Lynsey De Paul – Sugar MeSuatu saat kakak perempuan saya memberikan kompilasi box set yang berisi lagu-lagu populer 1970-an dan salah satu yang memikat adalah lagu ini, Sugar Me, dinyanyikan oleh Lynsey De Paul, penyanyi perempuan asal Inggris. Lagu ini rilis pada tahun 1972.
20. Vampire Weekend – Mansard RoofDi antara semua lagu-lagu yang saya muat di sini, lagu ini mungkin rilisan paling baru, dirilis pada tahun 2007. Dibawakan oleh band asal New York, Vampire Weekend. Di sela-sela liriknya yang absurd, lagu ini mampu mendatangkan semangat. Vampire Weekend sendiri terbentuk di tahun 2006, musiknya sedikit banyak terpengaruh oleh musik-musik rakyat Afrika yang bertempo cepat.
21. Brenda Lee – DynamiteBrenda Lee adalah penyanyi asal Amerika yang spesialis membawakan lagu-lagu Rockabilly, Pop dan Country. Dengan kemampuannya ia berhasil menguasai 37 kali hits di dataran Amerika Serikat, fenomena ini hanya bisa dilalui musisi semacam Elvis Presley, Ray Charles dan Connie Francis. Setelah merilis lagu ini ditahun 1957 Brenda Lee yang memiliki postur tubuh mungil namun bersuara maut ini mendapat julukan “Little Miss Dynamite”.
22. Squirell Nut Zippers – Put a Lid On ItBand ini berdiri di tahun 1993 tepatnya di Chapel Hill, North Carolina, Amerika. Musik yang mereka mainkan sangatlah sulit dikategorikan dengan skill bermusik yang tidak sepele mereka memadukan antara Delta Blues, Gypsy Jazz , Swing 1930-an dan Khelzer (musik rakyat Yahudi). Namun di akhir 1990-an mereka meraih kesuksesan komersial, Squirell Nut Zippers akhirnya sering juga dikaitkan dengan pergerakan Swing Revival yang sempat bangkit di Amerika sekitar akhir 1990-an.
23. Manu Chao – King of Bongo BongLahir dengan nama asli José-Manuel Thomas Arthur Chao, Manu Chao adalah seorang musisi Spanyol yang tinggal dan besar di Perancis, biasa menyanyikan lagunya dengan berbagai bahasa dari mulai Perancis, Spanyol , Inggris, Arab dan Portugis. Manu Chao mengawali karier musiknya dengan bermain di band bernama Hot Pants, merilis demo pertama mereka di tahun 1984. Lalu di tahun 1987 Manu Chao membentuk Mano Negra hingga akhirnya bubar dan mulai bersolo karier di Tahun 1995.
24. Sonic Youth – Diamond SeaSiapapun yang menghabiskan masa remajanya di tahun 90-an pasti mengenal Sonic Youth, minimal tahu namanya lah. Mereka berdiri ditahun 1981 hingga kini mereka masih produktif dan konsisten dengan apa yang mereka kerjakan di bidang musik maupun dibidang seni rupa. Saya mulai mengenal mereka ketika duduk di bangku SMP kelas tiga, awalnya saya tidak mengerti apa yang mereka mainkan hingga sekitar setahun kemudian seorang tetangga meminjamkan album Washing Machine. Mulai saat itu saya mencari tahu banyak tentang Sonic Youth dan mengoleksi rilisan mereka semampu saya, namun di antara menumpuknya rilisan mereka Washing Machine tetap yang terfavorit dan memiliki nilai sentimental tersendiri bagi saya. Lagu Diamond Sea adalah salah salah satu yang paling saya suka dalam Washing Machine.
25. Frank Zappa – Lemme Take You to the BeachTerlalu banyak untuk melukiskan seorang Frank Zappa dalam sebuah tulisan, sejarah karier musiknya sangat panjang, banyak band-band yang ter-influence olehnya diantaranya adalah Alice Cooper, Primus, dan legenda musik funk Goerge Clinton. Lemme Take You to the Beach adalah lagu yang sangat menyenangkan, mendengarkan ini rasanya seperti sebuah euphoria.
26. The Style Council – Shout to the TopDi tahun 1983, Paul Weller mendirikan The Style Council bersama Mike Talbot setelah dirinya menyelesaikan kariernya dari The Jam. Entah mengapa apa yang di buat Paul Weller sepertinya cocok di telinga saya, dari mulai The Jam, The Style Council, hingga era album solonya. Yah mungkin ini hanya masalah selera, musik yang di hasilkan Paul Weller sungguh beragam, toleransinya terhadap berbagai macam jenis musiklah yang saya kagumi karena semuanya tetap memiliki porsinya masing-masing dan tidak bisa dianggap remeh. Lagunya selalu bagus, total, dan yang paling penting adalah selalu ada di kala saya membutuhkan… he he he…Note: Nona Sari is the singer of White Shoes and the Couples Company. Not only her voice is beautiful, she’s also a talented painter. If you haven’t seen her dancing, well, your life is average… – (Rudolf Dethu)This is taken from www.rudlofdethu.com

Bandung Cello Workshop

cello-ricky

Baru saja hari ini saya mendapat kabar yang cukup mengagetkan , di karenakan hari ini telfon saya berdering dan setelah saya angkat berasal dari bapak Haryo Yose Suyoto (cellist,composer) yang mengabarkan perihal cello yang dia buat telah dia bawa ,karena sejujurnya saya penasaran sekali untuk mencoba cello ini .

Setelah sampai di kuningan dan waktu les anak saya dengan Pak Yose selasai akhirnya saya kesampaian untuk mencoba cello ini , dan hasil nya wow sangat bagus , sound yang di hasilkan oleh cello ini benar-benar bagus (buat saya) meskipun cello ini baru berumur 1 tahun tapi sound yang di hasilkan sangat bagus , dan seimbang sekali antara low register dan high register , begitu pula presisi bentuk cello , untuk thumb position di cello ini tidak ada masalah sama sekali ,presisi fret board sangat seimbang ,dan finishing akhirnya juga sangat ok seperti bentuk cello-cello dari abad 17 (cello tua).

Siapa yang sangka kalau cello ini di buat dan diproduksi oleh orang Indonesia ,mungkin semua pemain cello di negeri ini pun gak akan percaya jika hanya melihat dan mendengarkan suaranya .sampai jika kita melihat ke dalam badan cello itu melalui lubang resonansinya (f hole) akan tertera tulisan Copy Gustave Villaume by Juhana made in Bandung Indonesia.

Singkat kata melalui perbincangan yang saya alami dengan Pak Yose , ia memulai ini sekitar setahun yang lalu dimana pada waktu itu dia mencoba membimbing Pak Juhana ini dengan pengetahuan tentang cello yang dimiliki oleh Pak Yose dengan beberapa buku serta beberapa sumber di internet dan dimulai dengan cello nya sendiri sebagai experimen dan hasilnya pun lumayan memuaskan , lalu di lanjutkan dengan ada beberapa cello china yang di buang oleh pemiliknya dan di beli oleh Pak Yose untuk di bedah sampai akhirnya hadir sebuah cello yang baru saja saya coba sore ini , yang menurut saya sudah sangat sempurna,meskipun menurut beliau masih ada yang kurang di beberapa titik well menurut saya sih udah ok banget !!! Untuk cello yang baru saya coba ini beliau sengaja mengorder beberapa bahan kayu dari china dan eropa karena standar untuk instrumen gesek punya banyak kayu yg berbeda, seperti kayu body atas sudah keharusan untuk memakai kayu spruce ,body bawah dan samping kayu Maple. lalu di setiap pengerjaan nya beliau selalu ada untuk memberikan beberapa petunjuk kepada pak juhana , karena kalau untuk tehnik membuat cello tentunya beliau tidak mengerti ,tetapi pegetahuan dalam membuat cello yang ia mengerti ,maka sudah seperti keharusan jika ia selalu mendampingi disaat pengerjaan nya .

Dan akhirnya jadilah cello yang menurut saya bagus ini , selain cello beliau juga sudah melahirkan beberapa Viola .

Dan ketika saya tanya berarti sudah ada dong pak Luthier yang bagus di Indonesia (bandung) lalu ia enggan untuk disebut Luthier , dia lebih ok jika di sebut sebagai Bandung Cello Workshop. Meskipun di Indonesia ini sudah ada beberapa yang membuat alat musik gesek serius dengan hasil yang maksimal seperti Pak Kris dan Mas Sapto yang berada di Yogyakarta ,tetapi saya baru kali ini lihat yang berupa Cello dan dengan kualitas suara dan finishing yang maksimal .

Ricky Surya Virgana ( WS&TCC’s bassist & cellist)

taken from his blog shufle.multiply.com

Serupa Tapi Tak Sama (temukan sembilan (9) perbedaan )

image asliimage edit

Isilah waktu luang anda dengan sesuatu yang berguna, permainan ini tidak untuk orang yang super sibuk. Temukan sembilan (9) perbedaan pada dua gambar di bawah ini. Semoga berhasil!

Spend your free time doing something good. Find nine (9) differences between the two drawings below. Good luck, my friend!

Note: gambar display terlalu kecil, copy-lah kedua gambar ini ke desktop anda untuk tampilan yg lebih jelas.

Idea & Illustration by Saleh Husein

Apa itu “YES NO WAVE!” ?

toofastoyoung

Apa itu “YES NO WAVE . COM” ?

Yes No Wave Music adalah sebuah netlabel berbasis di Yogyakarta yang dikelola oleh Wok The Rock dan Bagus Jalang. Online label ini memungkinkan band/musisi untuk menampilkan karya mereka ke publik yang labih luas. Ini adalah aksi ‘gift economy’, sebuah eksperimentasi dalam menerapkan model musik gratis kepada pecinta musik di dunia yang kapitalistik ini. Aksi ini bukanlah gagasan menghancurkan industri musik yang sudah mapan ratusan tahun, tetapi lebih pada tawaran alternatif dalam mendistribusikan karya musik secara gratis.

Misi kami adalah mempromosikan hasil karya talenta-talenta muda yang tidak punya banyak kesempatan, mengalami hambatan finansial untuk memproduksi dan mendisitribusikan karya mereka dalam format vinil, CD atau kaset. Tentunya, baik kami juga band/musisi sepakat untuk memproduksi sebuah karya yang didistribusikan secara gratis dalam format MP3 melalui jaringan internet.
Yes No Wave Music tidak membatasi jenis musik apapun. [baca selengkapnya]

klik sini untuk mengunduh GRATIS! single terakhir kami “Senja Menggila” di YESNOWAVE.COM

What is “YES NO WAVE . COM” anyway?

Yes No Wave Music is a Yogyakarta-based netlabel run by Wok the Rock and Bagus Jalang. This online label gives bands and musicians the opportunity to publish their works to a broaden public. It’s a ‘gift-economy’ act; an experiment on applying free downloadable stuff to the music-lovers in today’s capitalism era. This is an alternative on the music field, by distributing free music and stuff, not a destructing idea for the music existing industry.

Our mission is to promote the works of young talents who are limited in chances, opportunities and financial supports on producing their works on vinyl, CD, or cassette format. We offer our site as a free online distribution channel for publishing the works of any bands or musicians in the MP3 format, from any genre. [read more]

click here, FREE download our latest single “Senja Menggila” via YESNOWAVE.COM