White Shoes & The Couples Company merilis piringan hitam “Album Vakansi”

White Shoes & The Couples Company merilis “Album Vakansi” dalam format piringan hitam di [at]demajors

Jakarta, 9 Mei 2012,

Pada Mei 2012 ini, Album Vakansi dari White Shoes & The Couples Company dirilis ulang oleh Minty Fresh(USA) untuk wilayah Amerika Serikat dalam format piringan hitam. Sedangkan khusus untuk melayani pembelian di wilayah Indonesia, “Album Vakansi” dalam format piringan hitam atau LP ini didistribusikan secara terbatas oleh demajors.

Acara peluncuran LP “Album Vakansi” sekaligus penjualan album secara resmi akan diadakan pada hari Jumat, 11 Mei 2012, dan akan dihadiri langsung oleh kami (White Shoes & The Couples Company) dari jam 7 malam sampai jam 11 malam di [at]demajors, Jl. Gandaria 1 no. 57A, Jakarta Selatan.

Sejumlah 75 keping LP ini sudah bisa didapatkan pada acara peluncuran nanti. Bagi 75 pembeli pertama secara langsung di [at]demajors per tanggal 11 Mei 2012 akan mendapatkan potongan harga dan tanda mata spesial yang hanya kami cetak sebanyak 100 buah.

Keterangan tentang pembelian LP “Album Vakansi” adalah sebagai berikut:

  1. Harga jual LP “Album Vakansi” adalah Rp. 275.000,-
  2. Pendistribusian LP “Album Vakansi” antara lain: 75 pcs melalui direct selling saat acara “Record Release” di [at]demajors, 50 melalui toko dan outlet pilihan (Heyfolks, Monka Magic, High Fidelity, Warung Musik, [at]demajors dan demajors Jogja (JNM)), sisanya akan dijual secara online melalui demajors.com

Terima Kasih atas perhatiannya.

Salam hangat dan Sampai Jumpa di [at]demajors,

White Shoes & The Couples Company

(Aprilia Apsari, Rio Farabi, Saleh Husein, Ricky Surya Virgana, Aprimela Prawidiyanti, John Navid)

 

Informasi & kontak:

Mr. Indra Ameng

(Personal Manager WSATCC)

wsatcc@gmail.com

www.whiteshoesandthecouplescompany.org

 

 

demajors Independent Music Industry

Fatmawati Golf Mansion Kav.30

Jl. RS Fatmawati Raya

Cilandak Barat, Jakarta 12430

www.demajors.com

info@demajors.com

twitter: @demajors_info

 

www.mintyfresh.com

 

 

 

 

 

GIGSPLAY.COM : PAGELARAN ALBUM VAKANSI…

Pagelaran Album Vakansi Agar Tak Hilang Ditelan Jaman 

Tulisan Oleh: Daffa Andika . Foto : Nuri Arunbiarti

Pentingnya Pendokumentasian

Di Indonesia, kebiasaan dan kesadaran secara umum akan pendokumentasian arsip sejarah masih lah kurang memuaskan. Secara khusus pun demikian pada dunia permusikan. Banyak album-album rilisan masa nenek-kakek kita muda yang sudah sulit sekali ditemukan, yang bahkan sekaliber sesepuh Jl. Surabaya pun angkat tangan. Senasib dengan para album, nasib arsip-arsip yang bersifat visual seperti foto-foto pun tidaklah lebih beruntung…

baca tulisan ini selengkapnya di >  GIGSPLAY.COM

 

 

HADIRILAH! PAMERAN ALBUM FOTO VAKANSI JAKARTA

 

UNDANGAN

White Shoes & The Couples Company dan Dia.Lo.Gue artspace mempersembahkan

 

PAGELARAN ALBUM VAKANSI

oleh White Shoes & The Couples Company

(Pameran Fotografi Album Foto Vakansi, Pertunjukan Musik & Diskusi)

 

Sabtu, 18 Februari 2012 jam 17.00

di Dia.Lo.Gue artspace

Jl. Kemang Selatan 99A, Jakarta Selatan

 

Pembukaan Pameran & Pertunjukan Musik : Sabtu, 18 Februari 2012 jam 17.00

45 minutes performance. Photography exhibition. Memorabilia. CD signing.

 

Pameran : 18 Februari – 4 Maret 2012 / jam 09.30 – 18.00

Diskusi : Sabtu, 25 Februari 2012 jam 16.00

“Musik, Disain Grafis, & Pencitraan”

Pembicara : Indra Ameng, Irwan Ahmett, White Shoes & The Couples Company

Moderator : David Tarigan

 

White Shoes & The Couples Company bekerjasama dengan Dia.Lo.Gue artspace mengadakan PAGELARAN ALBUM VAKANSI, berupa Pameran Fotografi Album Foto Vakansi di Dia.Lo.Gue artspace, Jakarta.

Pagelaran ini dirancang  sebagai sebuah program keliling, yang membawa pameran fotografi dan pertunjukan musik ini ke berbagai kota di Indonesia. Jakarta menjadi kota ketiga yang kami pilih sebagai tempat, setelah program ini diadakan pada Mei 2011 di Ruang Mes 56, Yogyakarta, dan Juli 2011 di Aiola Store, Surabaya.

Sebelumnya kami merilis sebuah proyek seni yang kami namakan Proyek Album Foto Vakansi yang dimulai pada 8 April 2011 sampai 8 Mei 2011. Selama 1(satu) bulan penuh, kami mengundang siapa saja untuk mengirimkan foto-foto memori vakansi kepada kami. Proyek Album Foto Vakansi adalah sebuah proyek pameran fotografi dari memori kolektif saat bervakansi yang kemudian ditampilkan dalam bentuk pameran fotografi.  Tujuan kami adalah untuk saling berbagi pengalaman dan memori bervakansi yang berkesan dan menyenangkan lewat foto, juga sekaligus memperlihatkan tempat-tempat bervakansi yang tersebar di seluruh pelosok nusantara dan juga penjuru dunia.

Proyek Album Foto Vakansi yang singkat ini pada akhirnya telah mengumpulkan sekitar 400 foto yang dikirimkan oleh 92 peserta pameran dari berbagai kota di Indonesia. Foto-foto yang terpilih kami pamerkan secara online di situs kami: www.whiteshoesandthecouplescompany.org  , dan kami tampilkan dalam sebuah pameran fotografi berjudul “Album Foto Vakansi” di berbagai ruang alternatif di Indonesia.

Dalam pameran di Dia.Lo.Gue artspace ini, selain Pameran Proyek Album Foto Vakansi, secara khusus kami menampilkan juga karya-karya visual berupa karya grafis, drawing, foto, produk merchandise, video dan koleksi foto-foto istimewa yang pernah dibuat oleh White Shoes & The Couples Company selama ini. Baik karya yang kami buat sendiri maupun yang dibuat secara kolaborasi bersama banyak rekan seniman lokal tersohor.

Pada pembukaan acara PAGELARAN ALBUM VAKANSI di Dia.Lo.Gue artspace ini , White Shoes & The Couples Company akan bermain sepanjang 45 menit.

 

Salam dan Sampai Jumpa di Kemang,

White Shoes & The Couples Company

(Aprilia Apsari – Rio Farabi – Saleh Husein – Ricky Virgana – Aprimela Prawidiyanti – John Navid)

.

**Gratis dan Untuk Semua Umur.

***CD Album Vakansi, merchandise spesial dan cendera mata terbatas akan tersedia di Dia.Lo.Gue artspace selama pameran berlangsung

 

Informasi & kontak:

White Shoes & The Couples Company

Indra Ameng  +62818817548   /  wsatcc@gmail.com

Thema +6285312340237  /  albumfotovakansi@gmail.com

www.whiteshoesandthecouplescompany.org

 

OUR TEMPORARY BOOKING CONTACT INFO

White Shoes & The Couples Company sedang mengadakan tour Eropa dari 27 January – 9 Febuary 2012,

Untuk sementara waktu booking contact untuk White Shoes & The Couples Company dipegang oleh Adityo Cahyo

di nomer telfon 0816958434 / wsatcc@gmail.com dan cc: adityocahyo.s@gmail.com.

 

Terima kasih atas perhatiannya.

 

 

Salam,

Indra Ameng

(Personal Manager White Shoes & The Couples Company)

HADIRILAH! PERTUNJUKAN SENEN SORE DI CIKINI

ATTENTION!

White Shoes & The Couples Company, Majalah Cobra dan demajors mempersembahkan

SENEN SORE DI TJIKINI

bersama White Shoes & The Couples Company

 

Senen, 23 Januari 2012

jam 17.00 – 20.00

di kedai Tjikini

Jl. Cikini Raya 17, Jakarta Pusat

 

2 set pertunjukan musik akustik dan elektrik oleh White Shoes & The Couples Company.

Penjualan Merchandise edisi terbatas (kaos & tas).

Lelang karya foto istimewa koleksi White Shoes & The Couples Company.

Dibuka oleh penampilan fantastis dari We Love ABC.

Acara ini diadakan sebagai Konser Donasi untuk mendukung keberangkatan

White Shoes & The Couples Company ke Eropa dari 28 Jan – 8 Feb 2012.

White Shoes & The Couples Company akan bermain di MIDEM 2012 di

Cannes, Prancis pada 30 Januari 2012.

http://www.midem.com/

http://www.midemfestival.com/white-shoes-and-the-couples-company/

http://musicservices.asia/612/msa-announces-the-music-services-asia-showcase-line-up-for-midem-2012/

Tiket masuk Rp 35,000,- (sudah termasuk segelas minuman dan donasi)

Kapsitas : 150 orang

Information:

T : 02195382356

www.whiteshoesandthecouplescompany.org

wsatcc@gmail.com

@wsatcc

majalahcobra.com

redaksicobra@gmail.com

@MAJALAH_COBRA


MERCHANDISE



“White Shoes & The Couples Company kembali mengeluarkan merchandise seri terbaru.

Merchandise ini dibuat untuk mendukung keberangkatan White Shoes & The Couples Company untuk bermain di MIDEM Festival di kota Cannes, Prancis.

Selain Cannes, White Shoes & The Couples Company juga akan tampil di kota Paris dan Amsterdam.

Merchandise ini mulai dijual pada tanggal 23 Januari.

 

Tshirt : Rp. 100,000,-

Tote Bag : Rp. 75,000,-

Paket (Tshirt, Tote Bag, Pin, dan Stiker) : Rp. 150,000 (hanya tersedia 30 paket)

 

Cara pemesan PRE-ORDER

WSATCC European tour 2012 – merchandise.

CP: Thema di 0856 997 6073 (SMS ONLY – 10.00 s/d 21.00)


RRREC FEST #2

RREC FEST #2

Music / Movie / Bazaar / Exhibition

 

ruangrupa kembali mempersembahkan RRREC FEST (ruangrupa Record Festival) di Jakarta pada 3-5 Desember 2011. Festival ini telah diselenggarakan pertama kali di awal2011 lalu sebagai bagian dari perhelatan Decompression #10 ruangrupa’s 10thAnniversary. RRREC FEST pertama disaksikan oleh lebih dari dua ribu penonton yang memadati Galeri Nasional Indonesia selama dua hari.

 

RRREC FEST bukan sekadar perhelatan musik. Festival ini hadir sebagai sebuah pernyataan akan pentingnya semangat alternatif, tidak hanya dalam dunia musik tetapi juga dalam praktik kebudayaan lainnya. Semangat ini akan selalu membuka ruang bagi lahirnya berbagai penciptaan dengan gagasan segar dan inspiratif.

 

Kali ini, RRREC FEST #2 diselenggarakan selama tiga hari di mana pada hari terakhir semua penampilan band tersebar di 5 titik lokasi berbeda di sepanjang jalan Cikini. Salah satunya adalah adalah Kineforum (Taman Ismail Marzuki) yang memutar video-video musik dalam program ‘ruru.mov’. Sama seperti RRREC FEST sebelumnya, acara ini bertujuan untuk mendokumentasikan energi dari sebuah generasi dalam musik, baik secara audio maupun video, sehingga dapat terekam dalam jiwa para penggemar musik yang datang ke acara ini. RRREC FEST #2 juga bermaksud untuk menampilkan musisi dan band independen lokal  dan internasional yang memiliki keunikan, agar dikenal lebih banyak orang. Selain musik, RRREC FEST #2 juga mengikutsertakan berbagai bentuk aktivitas kesenian lainnya berupa: bazaar unik, pameran poster, mural dan stiker, pemutaran video, fotografi, dll. Kurator RRREC FEST #2 adalah The Secret Agents.

 

Dalam RRREC FEST #2 The Secret Agents telah memilih 26 band paling inspiratif dan lintas genre: folk, pop, new wave, rock, eksperimental, hingga elektronik. RRRECFEST #2 secara khusus merayakan keragaman budaya kontemporer di Asia Tenggara, sebuah kawasan yang secara geopolitik memiliki posisi yang penting dalam peta kebudayaan dunia. Festival ini juga mengundang musisi dari Amerika Serikat, Hong Kong, danFinlandia. Keragaman ini adalah bentuk dari komitmen RRREC FEST untuk membuka ruang bagi pertukaran gagasan, semangat, dan kreativitas bagi para musisi, seniman, dan masyarakat luas.

 

Selama tiga hari, kawasan Cikini Raya akan menjadi lokasi perhelatan RRREC FEST #2. Di samping memiliki nilai sejarah yang penting bagi kota Jakarta, Cikini Raya juga menyediakan infrastruktur yang memadai. Di sana terdapat trotoar yang nyaman bagi pejalan kaki, berbagai kafe dan restoran dengan suasana yang hangat, Pusat Kesenian Jakarta,hotel, dan sebuah toko roti tua yang menyimpan memori. RRREC FEST melihat semua itu sebagai modal lokal yang sangat berharga untuk diapresiasi dan dinikmati bersama.

 

Tiga titik panggung yang berbeda, berupa stage-in dan stage-out, akan disediakan. Stage-out yang bertempat di halaman Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki menawarkan suasana festival dengan tingkat keakraban sosial yang besar, bersatu dengan bazaar produk-produk kreatif karya para seniman muda Ibu Kota. Stage-in digelar secara intim di dalam kafe, serta toko roti legendaris, Tan Ek Tjoan. Pada hari terakhir seluruh acara akan diadakan serentak dengan konsep hop-in.

 

Bekerjasama dengan Kineforum, RRREC FEST #2 mengadakan ruru.movprogrampemutaran film dan video. Secara khusus, program kali ini memutarkan enam karya audiovisual yang dalam berbagai cara melihat dan mengetengahkan tema musik dan anak muda. Keduanya tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi dalam berbagai bentuk ekspresi artistik.

 

 

RRREC FEST#2 SCHEDULE:

DAY 1 – Saturday, December 3, 2011

Special Screening RURU.MOV, at Kineforum, 3 films screening.

(Time 14.15 – “25 Musik Video Menginspirasi di Indonesia(2001-2011)” / 17.00 – “2 Tiang 7 layar” + “Aku seperti burung yang ingin terbang bebas”  / 19.30 – “Dongeng Rangkas”)

 

DAY 2 – Sunday, December 4, 2011

Special Screening RURU.MOV at Kineforum,3 films screening (Time 14.15 – “Dongeng Rangkas” / 17.00  – “Live from RRREC FEST #1” / 19.30 – “25 Musik Video Menginspirasi di Indonesia(2001-2011)”)

Music Concert: SUPERBAD! at The Jaya Pub. Six band performances including: Backwood Sun (Jakarta, ID), 9 Maps (Hong Kong), Risky Summerbee & The Honeythief (Yogyakarta, ID), Sigmun (Bandung, ID), The Cambodian Space Project (Cambodia), and The Experience Brothers (Jakarta, ID). FDC : 30,000 IDR, capacity 200 persons.

 

DAY 3 – Monday, December 5, 2011
Special screening RURU.MOV at Kineforum. (Time: 14.15 – “2 Tiang 7 layar” + “Aku seperti burung yang ingin terbang bebas” + discussion    / 17.00 – “Ambisi”)

Music Concerts at Tjikini Cafe with: Triangle (Bandung, ID), Backwood Sun (Jakarta, ID), Indie Art Wedding (Jakarta, ID), 9 Maps (Hongkong), White Shoes & The Couples Company, Swimming Elephant, and Sir Dandy (Jakarta, ID) / FDC: 30,000 IDR, starts from 4PM. Capacity 100 persons.
Music Concerts at Tan Ek Tjoan with: Adopta, Belkastrelka, Tenderfist (Malaysia), Zebra & Snake (Finland), Goodnight Electric, PAL/NTSC, Sigmun, Ghaust, Bite, and Morfem. FDC: 25,000 IDR, starts from 4PM. Capacity 300 persons.

Music Concerts at Taman Ismail Marzuki with: The Kuda, L’Alphalpha, Risky Summerbee & The Honeythief, Hightime Rebelion, Zeke Khaseli, The Cambodian Space Project (Cambodia) The Trees & The Wild (change to “Dikeroyok Wanita”), The Experience Brothers, Deerhoof (USA) / Donation (voluntarily donation to the box available on the spot), starts from 3.30 PM. Capacity 500 persons.

 

***

 

Untuk info lebih lanjut silakan kunjungi  http://rrrec.ruangrupa.org/ ,http://www.facebook.com/#!/rrrecfest dan follow kami di www.twitter.com/rrrec_festKunjungi pula www.okvideo.org  dan gabung di grup Facebook ruangrupa serta follow ruangrupa di www.twitter.com/ruangrupa.

 

 

 

 

 

 

    ruangrupa

Tebet Timur Dalam Raya No.6

Jakarta Selatan 12820

Telp / Fax : +6221 8304220

www.ruangrupa.org

info@ruangrupa.org

 

 

——————————————————————————————————————————————————————

RRREC FEST #2

Music / Movie / Bazaar / Exhibition

 

ruangrupa proudly brings you back RRREC FEST (ruangrupa Record Festival) in Jakarta on 3rd – 5th December 2011. The festival was firstly held at the beginning of 2011 as part of Decompression #10 ruangrupa’s 10th Anniversary. The premier RRREC FEST was very successful, attended by more than two thousands audiences that crowded National Gallery of Indonesia for two days.

 

This event is not merely ordinary music event. Since the beginning, the festival came with statement about the importance of alternative spirit, not only in music scene but also in other cultural production activities. This spirit shall create the space for many creations along with fresh and inspiring ideas.

 

This time, RRREC FEST #2 is held in three days, where in the third day all the band performances will be divided in 5 locations alongside Cikini. The fifth venue is Kineforum (at TIM), which is where music related videos are screened, as ‘ruru.mov’ program. The purpose of this event, like the first one, is to document the energy of a generation within the music culture; whether as audio, in video, or to be recorded in the soul of all the music fans whom will be witnessing the event. RRREC FEST #2 also intends to showcase local independent musicians and bands with ‘that special something’, to more people; as well as other Asian and international bands. Besides music, RRREC FEST #2 also engaged all kinds of other creative activities, such as: a unique bazaar, merchandise, posters – murals – stickers exhibitions, video screenings, photography, etc. The curators of RRREC FEST #2 are The Secret Agents.

 

For the RRREC FEST #2, The Secret Agents had curated 26 local and internationalmost inspiring and cross-genre bands / performers; from folk, pop, new wave, rock, experimental to electronic. RRREC FEST #2 specifically celebrates the richness of contemporary Southeast Asia, a region that geopolitically has significant role in global map culture. The festival also invites musicians from United States, Hong Kong and Finland. This multicultural panorama reflects the commitment of RRREC FEST in creating spaces to the exchange of ideas, spirits and creativities for the musicians, artists and audiences.

 

For three days, Cikini area becomes the main site of RRREC FEST #2. Besides its high historical value which is very important for Jakarta, Cikini Raya provides proper infrastructures: cozy sidewalks for pedestrians, various cafes and restaurants with warm ambiance, Jakarta Arts Centre and a legendary bakery in town that keeps our memory. RRRECT FEST conceives all of these aspects as “precious local heritages” that shall be appreciated and enjoyed together.

 

Four different stages located in Cikini (Tan Ek Tjoan, Tjikini, Taman Ismail Marzuki) and Thamrin (The Jaya Pub) are available during the festival. Stage-out spotted on the yard of Jakarta’s Theater, Taman Ismail Marzuki, offers high level of festive energy along with bazaar of Jakarta’s young artists. Stage-in held intimately inside cafes and a legendary patisserie. At the last day, whole performances are held at the same time with hope-inconcept.

 

In collaboration with Kineforum, RRREC FEST #2 also presents ruru.mov, the film and video screening program. Specifically, the 2nd ruru.mov program (the first one was held together with

 

RRREC FEST#2 SCHEDULE:

DAY 1 – Saturday, December 3, 2011

Special Screening RURU.MOV, at Kineforum, 3 films screening.

(Time 14.15 – “25 Musik Video Menginspirasi di Indonesia(2001-2011)” / 17.00 – “2 Tiang 7 layar” + “Aku seperti burung yang ingin terbang bebas”  / 19.30 – “Dongeng Rangkas”)

 

DAY 2 – Sunday, December 4, 2011

Special Screening RURU.MOV at Kineforum,3 films screening (Time 14.15 – “Dongeng Rangkas” / 17.00  – “Live from RRREC FEST #1” / 19.30 – “25 Musik Video Menginspirasi di Indonesia(2001-2011)”)

Music Concert: SUPERBAD! at The Jaya Pub. Six band performances including: Backwood Sun (Jakarta, ID), 9 Maps (Hong Kong), Risky Summerbee & The Honeythief (Yogyakarta, ID), Sigmun (Bandung, ID), The Cambodian Space Project (Cambodia), and The Experience Brothers (Jakarta, ID). FDC : 30,000 IDR, capacity 200 persons.

 

DAY 3 – Monday, December 5, 2011
Special screening RURU.MOV at Kineforum. (Time: 14.15 – “2 Tiang 7 layar” + “Aku seperti burung yang ingin terbang bebas” + discussion    / 17.00 – “Ambisi”)

Music Concerts at Tjikini Cafe with: Triangle (Bandung, ID), Backwood Sun (Jakarta, ID), Indie Art Wedding (Jakarta, ID), 9 Maps (Hongkong), White Shoes & The Couples Company, Swimming Elephant, and Sir Dandy (Jakarta, ID) / FDC: 30,000 IDR, starts from 4PM. Capacity 100 persons.
Music Concerts at Tan Ek Tjoan with: Adopta, Belkastrelka, Tenderfist (Malaysia), Zebra & Snake (Finland), Goodnight Electric, PAL/NTSC, Sigmun, Ghaust, Bite, and Morfem. FDC: 25,000 IDR, starts from 4PM. Capacity 300 persons.

Music Concerts at Taman Ismail Marzuki with: The Kuda, L’Alphalpha, Risky Summerbee & The Honeythief, Hightime Rebelion, Zeke Khaseli, The Cambodian Space Project (Cambodia) The Trees & The Wild (change to “Dikeroyok Wanita”), The Experience Brothers, Deerhoof (USA) / Donation (voluntarily donation to the box available on the spot), starts from 3.30 PM. Capacity 500 persons.

 

***

 

 

For more details about RRREC FEST #2. Video please visit http://rrrec.ruangrupa.org/ ,http://www.facebook.com/#!/rrrecfest  and follow us on www.twitter.com/rrrec_fest .  Please also visit www.okvideofestival.org  our group on Facebook, and follow ruangrupa on www.twitter.com/ruangrupa.

 

 

 

 

    ruangrupa

Tebet Timur Dalam Raya No.6

Jakarta Selatan 12820

Telp / Fax : +6221 8304220

www.ruangrupa.org

info@ruangrupa.org

 

 

 

 

 

 

 




Thema isriarti Putri


MAJALAHCOBRA.COM: WSATCC AT VOILAH FEST ..

White Shoes & The Couples Company at Voilah Festival, Singapore – Malaysia

– November 23, 2011 –

Oleh: Ricky Surya Virgana Foto: John Navid & Indra Ameng

Seminggu kemarin adalah minggu yang sangat padat bagi White Shoes and the Couples Company dikarenakan jadwal padat yang harus kami kerjakan baik di dalam kota, luar kota, sampai luar negeri. Berikut ini saya akan membagi pengalaman yang mungkin juga sangat berharga bagi kami sekeluarga, sebuah band kecil dengan harapan besar bagi diri kami sendiri. Selamat menikmati….

 

Click for Pictures & More >  majalahcobra.com

SEA Absolute Indie Compilation Released!

 

White Shoes & The Couples Company bersama beberapa band Indonesia lainnya seperti Sore, L’Alphalpha, The Trees & The Wild dan Goodnight Electric  ikut mengisi kompilasi yang bertajuk “SEA Absolute Indie Compilation” , kompilasi ini terdiri dari band-band yang berasal di selurh penjuru Asia Tenggara seperti Hong Kong, Cambodia, Malaysia, Singapore dan sekitarnya. Kompilasi ini membuktikan bahwa band-band yang berasal dari Asia sungguh beragam dan memiliki ciri khas tersendiri.

untuk info lebih lengkap tentang  musicservices.asia dan SEA Absolute Indie Compilation bisa klik > disini 

more info about  musicservices.asia and SEA Absolute Indie Compilation  > here


LANGITMUSIK.COM: INFLUENCE FILM INDONESIA DAN FASHION WSATCC

INFLUENCE FILM INDONESIA DAN FASHION WSATCC

Slamet Rahardjo dan Christine Hakim , Badai Pasti Berlalu 1977

Halo Teman-teman!

Dalam pembahasan kali ini, saya (Sari) sebagai perwakilan dari White Shoes & The Couples Company (WSATCC) akan bercerita sedikit tentang group musik kami yang mendapat inspirasi dalam gaya berpakaian dari film-film Nasional lawas yang terkenal pada zamannya.

Musik White Shoes & The Couples Company sendiri banyak terinspirasi dari soundtrack film nasional masa lalu. Seperti film Tiga Dara (1956), Badai Pasti Berlalu (1977), Ali Topan Anak Jalanan (1977) dan Gita Cinta dari SMA (1979). Walaupun kami juga banyak terpengaruh referensi musik dari luar, tapi sebagian besar inspirasi musik White Shoes didapat dari mendengarkan rekaman musisi-musisi Indonesia. A ntara lain Ismail Marzuki, Guruh Sukarno Putra, dan Jack Lesmana.

Sedangkan film-film menjadi latar belakang untuk masuk ke visual. Semua kreasi visual dibuat demi tujuan dan kepuasan artistik.

Karena musiknya sendiri adalah musik pop Indonesia, untuk menampilkan gaya artistik-nya, kami banyak mengacu dari karya-karya visual populer yang khas Indonesia. Benang merahnya adalah nostalgia kehidupan sosial masyarakat di Indonesia. Dari sini kami mencari referensi dengan melihat album photo orang tua kami, album photo lama milik teman-teman, dokumentasi atau arsip foto masa lalu dan juga melihat koleksi majalah-majalah lama.

Bahan-bahan ini kami dapat dari orang tua, keluarga, teman serta mencarinya di pasar loak. Selain itu, kami juga menonton film-film klasik Indonesia dan tentunya mendengarkan album-album rekaman musik Indonesia masa lalu. Semua proses ini akhirnya sangat membantu kami dalam mendapatkan inspirasi.

Mungkin beberapa teman-teman masih familiar dengan judul film ” Tiga Dara” dan “Asrama Dara”?  KalAupun teman-teman tidak mengenali, itupun tidak menjadi masalah karena kedua film ini sudah dibuat lama sekali, tepatnya di tahun 1950-an.

Kedua film ini disutradarai oleh H.Usmar Ismail. Keduanya adalah film hitam putih dan juga film musikal.

Bercerita tentang kehidupan wanita muda di era tersebut, film Tiga Dara dibintangi oleh Chitra Dewi, Mieke Wijaya dan Indriati Iskak. Pertama kali saya menyaksikan Tiga Dara adalah ketika masih duduk di bangku SMP. Kala itu saya tidak menyangka bahwa Indonesia memiliki film musikal yang sangat bagus.

Ya, hingga kini, menurut saya pribadi belum ada film musikal Indonesia yang bisa menandingi “Tiga Dara” dan “Asrama Dara” buatan H.Usmar Ismail. Saya pun sangat mengidolakan semua unsur pada film ini. Mulai dari setting-nya, musiknya, lagu-lagunya, koreografi tariannya, aktris dan aktornya.

Tapi, bagi saya, kostum, dandanan dan gaya penataan rambut pemeran adalah unsur yang paling istimewa. Semuanya terlihat begitu pas, tidak kurang dan juga tidak berlebihan.

Film lainnya yang juga menarik perhatian saya adalah film garapan Teguh Karya yang berjudul “Cinta Pertama” dan “Badai Pasti Berlalu”, kedua film tersebut di bintangi oleh Christine Hakim. Sosok Christine Hakim dalam kedua film ini bisa dibilang cukup banyak mempengaruhi konsep berpakaian dan berdandan saya beserta Mela (rekan di WSATCC). Sedangkan gaya berpakaian rekan-rekan lainnya yang kebanyakan memang laki-laki bisa dibilang sedikit banyak terinspirasi juga dari karakter-karakter pria dalam beberapa film diatas.

Indriati Iskak, Chitra Dewi dan Mieke Wijaya dalam Tiga Dara (1956)

Mieke Wijaya dalam Tiga Dara

Roy Marteen dan Christine Hakim dalam Badai Pasti Berlalu, 1977.

Christine Hakim dalam Cinta Pertama.

Persamaan dari kelima judul film yang saya sebutkan tadi adalah, Semuanya memiliki kaitan yang erat dengan musik! Seluruh original soundtrack nya di tulis dengan sangat indah dan hingga kini menjadi karya klasik nasional.

Disamping itu, semua karakter yang ada di kelima film tersebut bisa dibilang ikonik dan kharismatik. Seperti Junaedy Salat dalam Ali Topan Anak Jalanan yang digambarkan sebagai bad boy, Slamet Rahardjo yang dandy dalam Cinta Pertama dan Roy Marten yang bergaya khas cowok mahasiswa 1970a-an, gondrong tanggung ala Jim Morisson lengkap dengan aksesoris kendaraan bermotornya.

Begitu pula dengan karakter wanita dalam kelima film diatas, Chitra Dewi, Mieke Wijaya dan Indriati Iskak dalam Tiga Dara memiliki 3 karakter berbeda. Meski begitu, ketiganya sangat fashionable. Mulai kebaya yang pada kala itu sangatlah umum di kenakan hingga desain busana modern seperti celana capri, anting-anting berbentuk gelang hingga sack dress yang sangat menawan. Pada beberapa adegan bahkan, ketiga wanita hebat tersebut sempat mengenakan bikini dengan potongan yang cukup stylishkhas 1950-an.

Sedangkan film-film di era 1970-an, aktris yang menjadi panutan memang melimpah ruah. Namun ada beberapa aktris yang kami sering jadikan referensi. Mereka adalah Christine Hakim dalam film Cinta Pertama dan Badai Pasti Berlalu serta Yati Octavia dalam film Ali Topan Anak Jalanan. Keduanya memiliki karakter wajah lokal yang khas, itu mungkin alasannya mengapa mereka menjadi inspirasi kami dalam berpakaian diatas panggung. Perpaduan visual yang khas antara paras wajah lokal yang melebur dengan budaya pop sendiri hingga kini tetap menjadi panutan fashion White Shoes & The Couples Company diatas panggung.

Begitulah kira-kira bagaimana film nasional memberi pengaruh terhadap fashion kami diatas panggung, begitu banyak warisan seni budaya Indonesia dimasa lampau yang bisa dijadikan inspirasi. Warisannya juga mungkin hanya foto-foto di dalam Album keluarga, melihat pakaian-pakaian di lemari tua milik kakek dan nenek. Hingga hunting majalah lama di kios buku-buku bekas atau bentuk dokumentasi lainnya yang dapat memberikan inspirasi.

Terimakasih sudah mau menyimak tulisan ini hingga selesai, sampai jumpa di postingan kami berikutnya. :)

Salam Hangat Selalu,

Aprilia Apsari

Baca juga White Shoes & The Couples Company dan Musisi-musisi lainnya bercerita berbagi pengalaman, inspirasi dan kesukaan di LANGIT MUSIK.COM

__________________________________________________________ 

Behind The Scene : Kisah Dari Selatan Jakarta Music Video

White Shoes & The Couples Company baru-baru ini menyelesaikan projek bersama Tony Tandun, salah seorang seniman dan videographer dari Jakarta, yang sudah cukup sering mengerjakan projek-project manis bersama WSATCC.

Sebelum kami post videonya, inilah beberapa foto-foto dibalik pembuatan video musik tersebut.

Nampak dalam foto-foto ini, diantaranya adalah rekan-rekan dekat kami, Indra Ameng (WSATCC Manager), David Tarigan (Purapura Records), Kenzef, Marcellina Ceria, Ricky Malau, Keke Tumbuan, Reinaart Vanhoe, Samuel Bagas dan Ibnu (Ruangrupa),  Daud (Experience Brothers) dan Muthiara Rievana (backing vocal era rekaman album pertama 2005)  dan seluruh tim teknisi – administrasi White Shoes & The Couples Company.

 

photo credit: John Navid

LANGITMUSIK.COM : MY INDONESIAN MUSICAL HEROES (TOP 8)

MY INDONESIAN MUSICAL HEROES (TOP 8)

wsatcc doc

by Ricky Surya Virgana

Sedikit cerita tentang 8 musisi asal Indonesia yang menjadi pahlawan di perjalanan bermusik gue. Hihihihi…!

*jadi malu*

Amir Pasaribu (Cellist, Composer) 

Tahun 2005 adalah kali pertama saya mengenal namanya. Tepatnya saat guru cello saya mengadakan resital di Gedung Kesenian Jakarta dan membawakan karya Amir Pasaribu berjudul, Suite For Cello & Piano. Ketika saya mendengar karya tersebut dimainkan, saya langsung kagum terhadap Amir Pasaribu. Kekaguman itu pulalah yang akhirnya membuat saya mulai mencari tahu segala sesuatu tentangnya.

Amir adalah orang yang tidak pernah lelah belajar. Bayangkan saja, dia mendalami piano dan pelajaran musik dari Fr. Paulus dan Fr. Gustianus. Setelah itu beliau belajar cello dari patron pengajar cello di Indonesia, Varvolomeyef dan Joan Giessens.

Pada tahun 1950,  Amir terkenal akan kritiknya yang sangat keras pada pemerintah. Ia selalu mengkritik kinerja manajemen Orkes Radio Republik Indonesia yang menurutnya sangat lamban dalam melakukan sesuatu.

Meski kritis, beliau sering mendapat tugas Negara untuk melanjutkan studi musik ke luar negeri. Beliau jugalah orang Indonesia pertama yang mengenyam pendidikan musik klasik di luar negeri. Lalu pada tahun 1963, beliau kembali  melanjutkan pendidikan cellonya di Musahino Music School, Jepang.

Sepanjang hidupnya, beliau sendiri pernah bekerja sebagai cellist di Radio Symphony Orchestra Oshio Kioku Kangen Goku. Lalu menjabat sebagai direktur Sekolah Musik Indonesia di Yogyakarta dan juga guru cello dan piano di pusat kebudayan Suriname.

Setelah kemerdekaan Suriname di tahun 1975, beliau lantas hijrah dan menjadi konduktor di Paramibo Symphony Orchestra. Dua puluh tahun kemudian, beliau pn memutuskan kembali ke Indonesia dan menetap di Medan hingga akhirnya menghembuskan nafas pada 10 Februari 2010 lalu, diusianya yang ke 94 tahun.


Slamet Abdul Sjukur (Composer)

Taman Ismail Marzuki adalah tempat yang memperkenalkan saya dengan beliau. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah, “Beliau terlihat classic rock untuk seorang musisi classic contemporer.

Sebelum bertemu dengannya, saya sering mendengar kabar miring mengenai beliau. Kebanyakan sih mengatakan beliau adalah seseorang figure eksentrik.

Beliau sendiri mengenyam pendidikan musik klasik di Sekolah Musik Indonesia (SMIND) Yogyakarta (sekarang SMM). Setelah itu beliau mendapat beasiswa untuk belajar di Ecole Normale de Musique Paris, Perancis. Di sana beliau mempelajari komposisi pada seorang maestro musik bernama Olivier Messiaen.

Semasa tinggal di Perancis, beliau mendapatkan banyak sekali penghargaan bergengsi yang diberikan oleh pemerintah Negara tersebut atas karya-karyanya.

Antara lain Bronze Medal dari Festival de Jeux d’Automne di Dijon (1974), Golden Record dari Academie Charles Cros untuk karyanya “Angklung” (1975), Zoltan Kodaly Commemorative medal di Hongaria (1983), Perintis Musik Alternatif dari majalah Gatra (1996), Millenium Hall of Fame of the American Biographical Institute (1998), dan Officier de l’Ordre des Arts et des Lettres (2000).

Ketika kembali ke tanah air, beliau pun tetap aktif berkarya dan mengajar di sejumlah kampus serta Institusi Musik. Baik di Jakarta, Solo, juga Surabaya.


Jack Lesmana (Guitarist, Composer, Indonesian Jazz Hero)

Siapa yang tidak kenal nama ini?

Namanya hampir selalu terpampang di setiap album musisi lawas tanah air. Baik sebagai gitaris, komposer ataupun produser, terutama dalam rekaman-rekaman rilisan Irama Records. Bahkan namanya bisa disebut sebagai bapak musik jazz Indonesia.

Dalam usahanya mempopulerkan musik jazz, beliau selalu mempunyai gagasan kreatif. Seperti di pertengahan dekade ’70-an diamana ia mengasuh acara TVRI, beliau berhasil memperkenalkan Nada dan Improvisasi musik jazz ke pendengar musik pop. Selaiun itu, beliau pulalah yang membetuk The Indonesia All Stars.

Beberapa musik dari film juga pernah digubahnya. Antara lain, Seribu Langkah dan Malam Tak Berembun (1961), Violetta, Anak Perawan Disarang Penyamun (1962), dan Menantang Maut (1978).

Bagi saya, meski beliau sudah berpulang ke pangkuang Sang Pencipta pada 17 Juli 1988 lalu, karya-karyanya tetap kekal abadi menjadi inspirasi bagi saya.


Pranadjaja (Vocalist)

Lahir di Kemertiran, Yogyakarta, pada 11 Desember 1929, Pranadjaja dikenal sebagai penyanyi dan musikus Indonesia ternama. Namanya juga dinobatkan sebagai bapak musik seriosa di tanah air ini karena keuletannya dalam mempertahankan musik yang sempat popular di Indonesia pada dekade ’50-an.

Setelah beberapa kali memenangkan lomba Bintang Radio RRI katagori seriosa, Pranadjaja mendapat beasiswa untuk belajar musik dan vokal di Tokyo University of Arts, Jepang dan belajar kepada Prof. Gerhard Hush dan Nakayama.  Selama berada di Jepang, beliau juga seringkali bernyanyi untuk radio NHK.

Sekembalinya ke tanah air, beliau melakukan sedikit riset tentang sekolah musik vokal hingga akhrinya memutuskan untuk mendirikan sekolah musik Bina Vokalia pada tahun 1972. Selain itu beliau juga mengajar dan menciptakan karya-karya yang kerap menunjukan kekayaan alam Indonesia yang tiada tara.

Dedikasinya terhadap musik pun terbukti. Setelah membawakan lagu favoritnya O Sole Mio di panggung pada 2 Nevember 1997 silam, beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya.


Mochtar Embut (Composer)

Pada usia lima tahun, Mochtar Embut sudah bisa bermain piano. Empat tahun kemudian beliau sudah berhasil menciptakan sebuah lagu anak-anak berjudul Kupu-Kupu. Pada usia 16 tahun, ia pun telah rampung menyelesaikan karya pertamanya untuk piano. Hebatnya, semua yang dilakukannya kala itu adalah hasil belajar secara otodidak.

Karya ciptaannya bagai cermin hidupnya yang sepi, pemalu, dan tak suka publisitas. Tidaklah mengeherankan kalau dia lebih senang menyurukkan dirinya di belakang layar.

Meski begitu, ketika mengikuti festival lagu pop internasial di Jepang pada tahun 1971, lagu ciptaannya,With the Deepest Love from Jakarta sukses mendapatkan penghargaan dari panitia. Kala itu, ia juga bertindak sebagai dirigen orkes yang memainkan lagu ciptaannya dan membuatnya menjadi orang Indonesia pertama yang memimpin orkes simfoni Tokyo. Kesuksesan tersebutlah yang akhirnya membuat banyak orang menyadari keberadaannya.

Semasa hidupnya, Mochtar Embut telah menghasilkan lebih dari 100 lagu. Beberapa di antara lagunya seakan tinggal abadi dalam kenangan. Seperti: Di Sudut Bibirmu, dan Tiada Bulan di Wajah Rawan. Meski terbilang fenomenal, entah mengapa Mochtar enggan belajar ke luar negeri.

Karena bekerja nyaris tak kenal lelah, Mochtar pun terserang penyakit liver dan kanker hati.  Ia kemudian dirawat di Rumah Sakit Borromeus, Bandung sampai tahun 1965 hingga akhirnya wafat pada 20 Juli 1973.

Sebelum kembali ke pangkuan Sang Pencipta, Ia sempat menyelesaikan Kumpulan Lagu Populer I, sebuah buku yang memuat 27 lagu rakyat Indonesia dan sembilan lagu Barat.

“Dengan buku ini saya bermaksud mengetengahkan kepada dunia luas bahwa Indonesia juga memiliki lagu-lagu rakyat yang cukup berbobot,” katanya jauh sebelum wafat.

*Brrr… Merinding!*


Ismail Marzuki (Composer)

Ketika mendengar namanya, yang berputar di kepala saya adalah kata-kata maestro, komposer dan multi instrumentalis. “Sabda Alam: adalah karya beliau yang paling pertama akrab di telinga saya sekaligus karya beliau yang paling populer di kalangan masyarakat Indonesia.

Saya ingat, lagu Rayuan Pulau Kelapa adalah lagu yang saya bawakan ketika ujian EBTA Praktik sewaktu di Sekolah Dasar.

Sejak kecil beliau sudah menunjukan ketertarikannya kepada musik. Ini terbukti karena beliau sangat gemarmendengarkan rekaman piringan hitam lagu-lagu dari Perancis, Italia, atau lagu-lagu berirama samba dan tango.

Beliau memulai debut sebagai pemusik di usia 17 tahun. Waktu itu, beliau berhasil mengarang lagu O Sarinah (1931).

Di tahun 1936, pria yang akrab dipanggil Maing ini memasuki perkumpulan orkes Lief Java sebagai pemain gitar dan saksofon.

Dan sejak tahun 1930-an hingga 1950-an, beliau menciptakan sekitar dua ratus lima puluh lagu dengan berbagai tema dan jenis aliran musik yang memesona. Hingga saat ini, lagu-lagu karyanya yang abadi masih dikenang dan terus berkumandang di masyarakat.

Dalam dunia seni musik Indonesia, kehadiran putra Betawi ini mewarnai sejarah dan dinamika pasang surutnya musik Indonesia. Tak hanya itu, band yang bernama Tropical Sound Group asal Belanda kerap merekam karya-karya dari beliau ke dalam bentuk CD.

25 Mei 1958 adalah hari terakhir beliau di dunia.


Bing Slamet (Multi Talent Artist)

Saya tidak pernah menyangka sebelumnya kalau beliau adalah seorang musisi handal dan piawai memainkan gitar. Sampai pada suatu hari saya mendapatkan sebuah piringan hitam bertuliskan nama sebuah grup band jaman dulu, Eka Sapta.

Pada piringan tersebut tertulis tertulis nama beliau dan sang maestro biola Indonesia, Idris Sardi. Setelah mendengarkannya, saya pun langsung terpukau.

Lahir di Cilegon, 27 September 1927, anak dari seorang mantri pasar ini tidak hanya pandai menyanyi. Tapi juga terampil dalam memainkan gitar, sampai-sampai disebut sebagai Abdullah Kecil (seorang penyanyi tenar di jaman itu).

Selain menyanyi, beliau juga aktif di lawak. Pada dekade 1950-an beliau membentuk grup lawak Los Gilanos dengan Cepot dan Mang Udel, serta secara tetap mengisi acara lawak di RRI. Selain itu, beliau juga membentuk grup Trio Lawak SAE bersama Edy Sud dan Atmonadi.

Selain melawak, beliau juga membintangi beberapa buah film termasuk Ambisi (1973) yang membuat hati saya terpincut dengannya.

Pada 17 Desember 1974, Bing menghembuskan nafas terakhir di rumah sahabatnya Eddy Sud, di Jakarta. Dengan iringan isak tangis, beribu orang mengatarkan Bing ke tempat perisirahatn terakhirnya.


Yazeed Djamin (Pianist, Composer)

Mungkin bagi para pemain musik klasik di Indonesia nama beliau terkesan angker dan mengerikan. Apalagi sifatnya sangat temperamental terhadap para musisi. Saya sendiri belum pernah merasakan bermain di bawah baton beliau. Tapi begitu mengetahui bahwa beliau lah yang mengubah Paris Berantai dan Indonesia Pusaka yang dimainkan oleh World Youth Orchestra, saya pun tak bisa berkata-kata.

Yazeed mulai belajar piano di Yayasan Pendidikan Musik (YPM). Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan di Peabody Concervatory of Music di Baltimore (USA) serta meraih gelar Master of Music pada tahun 1988 dari Catholic University of America.

Selama di Amerika Serikat, beliau sering kali memenangkan kompetisi piano, di antaranya Peabody Piano Concert Competition di tahun 1979. Ia pun aktif bermain solo piano yang diiringi oleh bermacam orkestra dari berbagi Negara.

Sekembalinya ke Indonesia, beliau mendirikan The National Chamber Orchestra atau juga dikenal dengan NSO (Nusantara Symphony Orchestra). Radang otak merenggut nyawanya pada 6 September 2001.


Well, merekalah yang menjadi inspirasi bermusik bagi saya hingga kini.

Bagimana dengan kalian?

 

Cheers,

Ricky Surya Virgana

 

Baca juga White Shoes & The Couples Company dan Musisi-musisi lainnya bercerita berbagi pengalaman, inspirasi dan kesukaan di LANGIT MUSIK.COM 

 

______________________________________________________________

 

 

Spotted “Album Vakansi” in Tokyo

We just got e-mail from our Manager, Mr. Indra Ameng. He recently visited Tokyo and accidentally found something delightful, so he snapped this nice picture

White Shoes & The Couples Company "Album Vakansi", Tower Records, Shinjuku, Tokyo.

It says “Happy & Groovy!! You should listen it!!”. 

White Shoes & The Couples Company “Album Vakansi”,Tower Records, Shinjuku, Tokyo. 

 
 
 
*Bunch of thanks to Yuhei “Marco” Hirose for the translation 🙂

PAGELARAN ALBUM VAKANSI di SURABAYA

eFlyer-Vakansi_3_-SBY1

White Shoes & The Couples Company

mempersembahkan

PAGELARAN ALBUM VAKANSI di SURABAYA

(Pameran Fotografi Album Foto Vakansi dan Musik Akustik)

Minggu, 24 Juli 2011

jam 16.00 – selesai

di Aiola Store

Jl. Slamet 16, Surabaya

Pembukaan Pameran : Minggu, 24 Juli 2011 jam 16.00

Pameran : 24 – 30 Julii 2011(jam buka 10.00 – 21.00)

Musik Akustik. Pameran Fotografi. Tandatangan CD Album Vakansi.

Dimeriahkan oleh: Hi Mom, Daily Dairies, Rainy Days.

White Shoes & The Couples Company bekerjasama dengan Aiola Store (Surabaya) mengadakan PAGELARAN ALBUM VAKANSI, berupa Pameran Fotografi Album Foto Vakansi dan Musik Akustik di Aiola Store, Surabaya.

Pagelaran ini dirancang sebagai sebuah program keliling, yang akan membawa pameran fotografi dan pertunjukan musik ini ke berbagai kota di Indonesia. Surabaya menjadi kota kedua yang kami pilih sebagai tempat, setelah program ini pertama kali diadakan pada bulan Mei 2011 yang lalu di Ruang Mes 56, Yogyakarta.

Sebelumnya kami merilis sebuah proyek seni yang kami namakan Proyek Album Foto Vakansi yang dimulai pada 8 April 2011 sampai 8 Mei 2011. Selama 1(satu) bulan penuh, kami mengundang siapa saja untuk mengirimkan foto-foto memori vakansi kepada kami. Proyek Album Foto Vakansi adalah sebuah proyek pameran fotografi dari memori kolektif saat bervakansi yang kemudian ditampilkan dalam bentuk pameran fotografi. Tujuan kami adalah untuk saling berbagi pengalaman dan memori bervakansi yang berkesan dan menyenangkan lewat foto, juga sekaligus memperlihatkan tempat-tempat bervakansi yang tersebar di seluruh pelosok nusantara dan juga penjuru dunia.

Proyek Album Foto Vakansi yang singkat ini pada akhirnya telah mengumpulkan sekitar 400 foto yang dikirimkan oleh 92 peserta pameran dari berbagai kota di Indonesia. Foto-foto yang terpilih kami pamerkan secara online di situs kami: www.whiteshoesandthecouplescompany.org , dan kami tampilkan dalam sebuah pameran fotografi berjudul “Album Foto Vakansi” di berbagai ruang alternatif di Indonesia.

Sampai jumpa di Surabaya.

Salam,

White Shoes & The Couples Company

(Aprilia Apsari – Rio Farabi – Saleh Husein – Ricky Virgana – Aprimela Prawidyanti – John Navid)

** Gratis dan Untuk Semua Umur.

***CD Album Vakansi, merchandise spesial dan cendera mata terbatas akan tersedia di Aiola.

Informasi & kontak:

White Shoes & The Couples Company

Indra Ameng +62818817548

E: wsatcc@gmail.com W : www.whiteshoesandthecouplescompany.org

Aiola Store Jl. Slamet 16, Surabaya
Phone: 031 – 5343180, Mobile: +62 817370316(Gubi)

Facebook: Aiola Store. Twitter: @aiola_store