LANGITMUSIK.COM : MY INDONESIAN MUSICAL HEROES (TOP 8)

MY INDONESIAN MUSICAL HEROES (TOP 8)

wsatcc doc

by Ricky Surya Virgana

Sedikit cerita tentang 8 musisi asal Indonesia yang menjadi pahlawan di perjalanan bermusik gue. Hihihihi…!

*jadi malu*

Amir Pasaribu (Cellist, Composer) 

Tahun 2005 adalah kali pertama saya mengenal namanya. Tepatnya saat guru cello saya mengadakan resital di Gedung Kesenian Jakarta dan membawakan karya Amir Pasaribu berjudul, Suite For Cello & Piano. Ketika saya mendengar karya tersebut dimainkan, saya langsung kagum terhadap Amir Pasaribu. Kekaguman itu pulalah yang akhirnya membuat saya mulai mencari tahu segala sesuatu tentangnya.

Amir adalah orang yang tidak pernah lelah belajar. Bayangkan saja, dia mendalami piano dan pelajaran musik dari Fr. Paulus dan Fr. Gustianus. Setelah itu beliau belajar cello dari patron pengajar cello di Indonesia, Varvolomeyef dan Joan Giessens.

Pada tahun 1950,  Amir terkenal akan kritiknya yang sangat keras pada pemerintah. Ia selalu mengkritik kinerja manajemen Orkes Radio Republik Indonesia yang menurutnya sangat lamban dalam melakukan sesuatu.

Meski kritis, beliau sering mendapat tugas Negara untuk melanjutkan studi musik ke luar negeri. Beliau jugalah orang Indonesia pertama yang mengenyam pendidikan musik klasik di luar negeri. Lalu pada tahun 1963, beliau kembali  melanjutkan pendidikan cellonya di Musahino Music School, Jepang.

Sepanjang hidupnya, beliau sendiri pernah bekerja sebagai cellist di Radio Symphony Orchestra Oshio Kioku Kangen Goku. Lalu menjabat sebagai direktur Sekolah Musik Indonesia di Yogyakarta dan juga guru cello dan piano di pusat kebudayan Suriname.

Setelah kemerdekaan Suriname di tahun 1975, beliau lantas hijrah dan menjadi konduktor di Paramibo Symphony Orchestra. Dua puluh tahun kemudian, beliau pn memutuskan kembali ke Indonesia dan menetap di Medan hingga akhirnya menghembuskan nafas pada 10 Februari 2010 lalu, diusianya yang ke 94 tahun.


Slamet Abdul Sjukur (Composer)

Taman Ismail Marzuki adalah tempat yang memperkenalkan saya dengan beliau. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah, “Beliau terlihat classic rock untuk seorang musisi classic contemporer.

Sebelum bertemu dengannya, saya sering mendengar kabar miring mengenai beliau. Kebanyakan sih mengatakan beliau adalah seseorang figure eksentrik.

Beliau sendiri mengenyam pendidikan musik klasik di Sekolah Musik Indonesia (SMIND) Yogyakarta (sekarang SMM). Setelah itu beliau mendapat beasiswa untuk belajar di Ecole Normale de Musique Paris, Perancis. Di sana beliau mempelajari komposisi pada seorang maestro musik bernama Olivier Messiaen.

Semasa tinggal di Perancis, beliau mendapatkan banyak sekali penghargaan bergengsi yang diberikan oleh pemerintah Negara tersebut atas karya-karyanya.

Antara lain Bronze Medal dari Festival de Jeux d’Automne di Dijon (1974), Golden Record dari Academie Charles Cros untuk karyanya “Angklung” (1975), Zoltan Kodaly Commemorative medal di Hongaria (1983), Perintis Musik Alternatif dari majalah Gatra (1996), Millenium Hall of Fame of the American Biographical Institute (1998), dan Officier de l’Ordre des Arts et des Lettres (2000).

Ketika kembali ke tanah air, beliau pun tetap aktif berkarya dan mengajar di sejumlah kampus serta Institusi Musik. Baik di Jakarta, Solo, juga Surabaya.


Jack Lesmana (Guitarist, Composer, Indonesian Jazz Hero)

Siapa yang tidak kenal nama ini?

Namanya hampir selalu terpampang di setiap album musisi lawas tanah air. Baik sebagai gitaris, komposer ataupun produser, terutama dalam rekaman-rekaman rilisan Irama Records. Bahkan namanya bisa disebut sebagai bapak musik jazz Indonesia.

Dalam usahanya mempopulerkan musik jazz, beliau selalu mempunyai gagasan kreatif. Seperti di pertengahan dekade ’70-an diamana ia mengasuh acara TVRI, beliau berhasil memperkenalkan Nada dan Improvisasi musik jazz ke pendengar musik pop. Selaiun itu, beliau pulalah yang membetuk The Indonesia All Stars.

Beberapa musik dari film juga pernah digubahnya. Antara lain, Seribu Langkah dan Malam Tak Berembun (1961), Violetta, Anak Perawan Disarang Penyamun (1962), dan Menantang Maut (1978).

Bagi saya, meski beliau sudah berpulang ke pangkuang Sang Pencipta pada 17 Juli 1988 lalu, karya-karyanya tetap kekal abadi menjadi inspirasi bagi saya.


Pranadjaja (Vocalist)

Lahir di Kemertiran, Yogyakarta, pada 11 Desember 1929, Pranadjaja dikenal sebagai penyanyi dan musikus Indonesia ternama. Namanya juga dinobatkan sebagai bapak musik seriosa di tanah air ini karena keuletannya dalam mempertahankan musik yang sempat popular di Indonesia pada dekade ’50-an.

Setelah beberapa kali memenangkan lomba Bintang Radio RRI katagori seriosa, Pranadjaja mendapat beasiswa untuk belajar musik dan vokal di Tokyo University of Arts, Jepang dan belajar kepada Prof. Gerhard Hush dan Nakayama.  Selama berada di Jepang, beliau juga seringkali bernyanyi untuk radio NHK.

Sekembalinya ke tanah air, beliau melakukan sedikit riset tentang sekolah musik vokal hingga akhrinya memutuskan untuk mendirikan sekolah musik Bina Vokalia pada tahun 1972. Selain itu beliau juga mengajar dan menciptakan karya-karya yang kerap menunjukan kekayaan alam Indonesia yang tiada tara.

Dedikasinya terhadap musik pun terbukti. Setelah membawakan lagu favoritnya O Sole Mio di panggung pada 2 Nevember 1997 silam, beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya.


Mochtar Embut (Composer)

Pada usia lima tahun, Mochtar Embut sudah bisa bermain piano. Empat tahun kemudian beliau sudah berhasil menciptakan sebuah lagu anak-anak berjudul Kupu-Kupu. Pada usia 16 tahun, ia pun telah rampung menyelesaikan karya pertamanya untuk piano. Hebatnya, semua yang dilakukannya kala itu adalah hasil belajar secara otodidak.

Karya ciptaannya bagai cermin hidupnya yang sepi, pemalu, dan tak suka publisitas. Tidaklah mengeherankan kalau dia lebih senang menyurukkan dirinya di belakang layar.

Meski begitu, ketika mengikuti festival lagu pop internasial di Jepang pada tahun 1971, lagu ciptaannya,With the Deepest Love from Jakarta sukses mendapatkan penghargaan dari panitia. Kala itu, ia juga bertindak sebagai dirigen orkes yang memainkan lagu ciptaannya dan membuatnya menjadi orang Indonesia pertama yang memimpin orkes simfoni Tokyo. Kesuksesan tersebutlah yang akhirnya membuat banyak orang menyadari keberadaannya.

Semasa hidupnya, Mochtar Embut telah menghasilkan lebih dari 100 lagu. Beberapa di antara lagunya seakan tinggal abadi dalam kenangan. Seperti: Di Sudut Bibirmu, dan Tiada Bulan di Wajah Rawan. Meski terbilang fenomenal, entah mengapa Mochtar enggan belajar ke luar negeri.

Karena bekerja nyaris tak kenal lelah, Mochtar pun terserang penyakit liver dan kanker hati.  Ia kemudian dirawat di Rumah Sakit Borromeus, Bandung sampai tahun 1965 hingga akhirnya wafat pada 20 Juli 1973.

Sebelum kembali ke pangkuan Sang Pencipta, Ia sempat menyelesaikan Kumpulan Lagu Populer I, sebuah buku yang memuat 27 lagu rakyat Indonesia dan sembilan lagu Barat.

“Dengan buku ini saya bermaksud mengetengahkan kepada dunia luas bahwa Indonesia juga memiliki lagu-lagu rakyat yang cukup berbobot,” katanya jauh sebelum wafat.

*Brrr… Merinding!*


Ismail Marzuki (Composer)

Ketika mendengar namanya, yang berputar di kepala saya adalah kata-kata maestro, komposer dan multi instrumentalis. “Sabda Alam: adalah karya beliau yang paling pertama akrab di telinga saya sekaligus karya beliau yang paling populer di kalangan masyarakat Indonesia.

Saya ingat, lagu Rayuan Pulau Kelapa adalah lagu yang saya bawakan ketika ujian EBTA Praktik sewaktu di Sekolah Dasar.

Sejak kecil beliau sudah menunjukan ketertarikannya kepada musik. Ini terbukti karena beliau sangat gemarmendengarkan rekaman piringan hitam lagu-lagu dari Perancis, Italia, atau lagu-lagu berirama samba dan tango.

Beliau memulai debut sebagai pemusik di usia 17 tahun. Waktu itu, beliau berhasil mengarang lagu O Sarinah (1931).

Di tahun 1936, pria yang akrab dipanggil Maing ini memasuki perkumpulan orkes Lief Java sebagai pemain gitar dan saksofon.

Dan sejak tahun 1930-an hingga 1950-an, beliau menciptakan sekitar dua ratus lima puluh lagu dengan berbagai tema dan jenis aliran musik yang memesona. Hingga saat ini, lagu-lagu karyanya yang abadi masih dikenang dan terus berkumandang di masyarakat.

Dalam dunia seni musik Indonesia, kehadiran putra Betawi ini mewarnai sejarah dan dinamika pasang surutnya musik Indonesia. Tak hanya itu, band yang bernama Tropical Sound Group asal Belanda kerap merekam karya-karya dari beliau ke dalam bentuk CD.

25 Mei 1958 adalah hari terakhir beliau di dunia.


Bing Slamet (Multi Talent Artist)

Saya tidak pernah menyangka sebelumnya kalau beliau adalah seorang musisi handal dan piawai memainkan gitar. Sampai pada suatu hari saya mendapatkan sebuah piringan hitam bertuliskan nama sebuah grup band jaman dulu, Eka Sapta.

Pada piringan tersebut tertulis tertulis nama beliau dan sang maestro biola Indonesia, Idris Sardi. Setelah mendengarkannya, saya pun langsung terpukau.

Lahir di Cilegon, 27 September 1927, anak dari seorang mantri pasar ini tidak hanya pandai menyanyi. Tapi juga terampil dalam memainkan gitar, sampai-sampai disebut sebagai Abdullah Kecil (seorang penyanyi tenar di jaman itu).

Selain menyanyi, beliau juga aktif di lawak. Pada dekade 1950-an beliau membentuk grup lawak Los Gilanos dengan Cepot dan Mang Udel, serta secara tetap mengisi acara lawak di RRI. Selain itu, beliau juga membentuk grup Trio Lawak SAE bersama Edy Sud dan Atmonadi.

Selain melawak, beliau juga membintangi beberapa buah film termasuk Ambisi (1973) yang membuat hati saya terpincut dengannya.

Pada 17 Desember 1974, Bing menghembuskan nafas terakhir di rumah sahabatnya Eddy Sud, di Jakarta. Dengan iringan isak tangis, beribu orang mengatarkan Bing ke tempat perisirahatn terakhirnya.


Yazeed Djamin (Pianist, Composer)

Mungkin bagi para pemain musik klasik di Indonesia nama beliau terkesan angker dan mengerikan. Apalagi sifatnya sangat temperamental terhadap para musisi. Saya sendiri belum pernah merasakan bermain di bawah baton beliau. Tapi begitu mengetahui bahwa beliau lah yang mengubah Paris Berantai dan Indonesia Pusaka yang dimainkan oleh World Youth Orchestra, saya pun tak bisa berkata-kata.

Yazeed mulai belajar piano di Yayasan Pendidikan Musik (YPM). Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan di Peabody Concervatory of Music di Baltimore (USA) serta meraih gelar Master of Music pada tahun 1988 dari Catholic University of America.

Selama di Amerika Serikat, beliau sering kali memenangkan kompetisi piano, di antaranya Peabody Piano Concert Competition di tahun 1979. Ia pun aktif bermain solo piano yang diiringi oleh bermacam orkestra dari berbagi Negara.

Sekembalinya ke Indonesia, beliau mendirikan The National Chamber Orchestra atau juga dikenal dengan NSO (Nusantara Symphony Orchestra). Radang otak merenggut nyawanya pada 6 September 2001.


Well, merekalah yang menjadi inspirasi bermusik bagi saya hingga kini.

Bagimana dengan kalian?

 

Cheers,

Ricky Surya Virgana

 

Baca juga White Shoes & The Couples Company dan Musisi-musisi lainnya bercerita berbagi pengalaman, inspirasi dan kesukaan di LANGIT MUSIK.COM 

 

______________________________________________________________

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *